<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>graminea &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/graminea/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "graminea"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 01:57:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ketika kita menyatu Di Bawah Panji Hijau (Bagian III)]]></title>
<link>http://graminea.wordpress.com/?p=120</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 21:32:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>graminea</dc:creator>
<guid>http://graminea.es.wordpress.com/2008/09/15/ketika-kita-menyatu-di-bawah-panji-hijau-iii/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : dEr@
“Kebanggaanku pada Kalian..sahabat, teman, saudara…”
 
“perjalanan sang waktu, m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;">Oleh : dEr@</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span lang="EN-US">“Kebanggaanku pada Kalian..sahabat, teman, saudara…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="EN-US">“perjalanan sang waktu, menembus segala batasan..kadang pisah menggelisahkan.. namun harapan di ujung horizon menggugah langit dengan warna-warni bianglala”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Menyambung cerita yang sempat tertunda karena berbagai kesibukan, mudahan masih ga bikin bosan….Salam Hormat untuk Erwan..Salut untuk Adhenan atas dedikasinya untuk Graminea tercinta, dan Salam Lestari untuk yang lain…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Sore itu di antara gedung tiga dan gedung empat Kampus Unlam Banjarbaru, nampak bergerombol sekelompok mahasiswa..Beberapa diantaranya sibuk membuat simpul dari tali dan beberapa lainnya memanjat pohon besar (entah pohon apa, lupa juga neh..kayaknya pohon flamboyan deh..).<span> </span>Aku datang agak telat, karena emang ada kuliah siangnya..(caelah..sok rajin..).<span> </span>Bersama-sama Riyad, Winarso, Tika (tika yg cewe, karena ada juga Tika cowo alias Kartika Riyadi)..Away, Dicky dll deh menunggu senior-senior selesai pasang ini itu dan kayaknya sengaja dibuat seolah-olah ribet deh…padahal pas udah bisa bikin simpul dan pasang alat panjat..ternyaga ga ribet-ribet amat….mungkin maksudnya show off begetoooh…he he he he..(Bukan Begitu ketua Budi-Abuk dan Ketua Erwan…hahahahaha..)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Ada</span><span lang="EN-US"> Heru BA..dah pasang wajah Playboy melayunya di sana..(Apa kabar Pak Heru… lama juga ga bertemu…dah 15 tahun..?? lebih mungkin yah..Salut &#38; Hormatku utk Bapak..).<span> </span>Secara Ringkas, kami di kasih tau..apa aja yang ada di hadapan kami saat itu..dan kami mo ngapain..tapi ga pedulu deh…yg penting dateng and ketemu ama gebetan….Kegiatan kali ini ternyata <em>prusiking dan Rappeling</em>…yang akhirnya menjadi awal bagi kami untuk selanjutnya terlibat dalam berbagai kegiatan lainnya….Ada Pekan Murah Ramadhan, ada GWO (Graminea Wall Obsession) dll deh….termasuk juga berbagai ekspedisi dan undangan di luar daerah….Menyenangkan..!!! penuh suka cita dan seakan-akan hidup penuh dengan harapan ketika bersama dalam setiap kegiatan Graminea.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Mungkin agak sedikit <em>ngoyo</em> kalo aku bilang bahwa, berbagai pengalaman yang aku dapat di Graminea adalah dasar bagiku untuk menambah wawasan dan kapasitas, sebagai anak Mapala, aku merasa di anggap dalam pergaulan Kampus…dan untuk itu aku merasa bahwa Eksistensi Ke-Mapala-an ku harus terlihat…emang sih…ga bener juga kalo terlalu menjadi eksistensialist…dan itu akhirnya aku sadari juga…dan aku juga yakin temen-temen yang lain juga gitu….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Kesan yg mendalam yang sampai saat ini tidak pernah bisa terlupakan, menjadi bagian dari Mapala Graminea ternyata juga menjadi bagian dari aktivitas kampus dan menjadi pendobrak…menjadi pelopor…itu aku dapatkan ketika pertama kali ikut terlibat dalam Mimbar Kampus yang di motori oleh Bilal Sang Revolusioner…(Apa khabarnya Om Bilal…lama sekali tidak berjumpa….kapan kita bikin aksi lagi…Salam Hormat untuk mu..).<span> </span>Hampir semua mereka yang terlibat aksi saat Mimbar Kampus di tahun 1990 itu adalah anak Mapala Graminea…bisa kalian bayangkan, saat NKK-BKK membelenggu kebebasan Kampus, saat Rezim Otoriter menjadi penguasa...Anak-anak muda Graminea berani menyuarakan pendapatnya dengan lantang…masih ingat betul bagaimana Bilal, Bambang berorasi…(apa khabar mas Bambang..dimana sekarang..?? Salam Hormatku juga buatmu..).<span> </span>Sebuah pendidikan Politik yang luar biasa yang aku dapatkan dari Mapala Graminea…dan aku yakin benar..ga ada satupun organisasi kampus yang berani melakukan hal itu…Hanya Mapala Graminea yang berani menjadi motor bagi gerakan kampus pada masa itu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Kebebasan Kampus yang terpasung, diterabas dan didobrak…kalimantan Selatan Geger, di Koran lokal berita itu cukup mengemparkan, anak-anak Senat di Banjarmasin bahkan dengan serta merta datang dan bergabung….Jadi Kawan-kawan muda Graminea… berbanggalah…karena Graminea adalah Pelopor Gerakan Kampus dimasa Rezim Otoriter masih berkuasa…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Saat ini…aku mengingat kembali masa-masa indah dulu..yang manis-nya masih terasa dihati…ups…rada melow neh…hehehehe…ga papa tohk…pada dasarnya aku emang melankolis dan romantis kok, rada sentimentil dikiit. Hehehehehe….kok jadi narsis… Ok lanjut..yah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Kenyataan yang terjadi di sekitar kita, jauh dari apa yg disuarakan oleh media, pejabat bahkan oleh dosen-dosen di kampus..itu disadari betul oleh para penggiat di Graminea pada waktu itu, ini dirasakan ketika kita melakukan ekspedisi, ketika melakukan perjalanan, ketika melaksanakan berbagai kegiatan di alam.<span> </span>Begitu juga dalam kehidupan kampus…berbagai kebijakan kampus yang membelenggu, menghancurkan kesadaran untuk saling tenggang rasa.<span> </span>Selama aku di Mapala menjadi suatu masalah yang dibincangkan…saat melakukan ekspedisi misalnya, dengan gamblang kita akan melihat bahwa kenyataan di kampung-kampung yang dilalui, di kawasan hutan yang dilalui di pesisir dan di sepanjang sungai…sangat memprihatinkan…itulah kesadaran awal…Kesadaran seperti inilah yang terus dipegang dan menjadi dasar bagi beberapa penggiat Graminea dulu sampe sekarang.<span> </span>Waduh..kok malah kayak sok nasehatin yah…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Kembali kepengalaman dulu neh…suatu kali pernah Mapala Graminea ngadain kegiatan yang cukup besar, waktu itu GWO pertama, wow..seru deh…kan belum pernah neh bikin kegiatan yang skalanya nasional, jadi rada gimana gitu…hehehehe…Nah pas waktu mo cari dana, kita-kita sadar betul kalo hanya kasih proposal trus di tinggal di satpam..hasilnya ga bakal maksimal..alih-alih dapat bantuan, bisa-bisa malah masuk keranjang sampah…tul ga..??</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Waktu itu dibuatlah siasat..(caileh…kayak mo perang aja..).<span> </span>Para “pencari dana” di memake pakaian yang rapih, dan diantar pake mobil…biar kalo masuk perusahaan atau instansi pemerintah diperhatikan dan dianggap tamu penting deh..eh bener juga tuh…hasilnya jauh beda dengan mereka yang dateng dengan baju planel dan jean butut (lagi musim waktu itu pakaian model gini)..apalagi kalo yang datang selain pake “baju perang” gitu memakai kalung yang rentengannya waw deh..banyak banget, dari mulai yg model kalung militer ampe tali prusik di ganduli berbagai liontin antik…(jadi ingat Kiss neh…hehehe…Pa Khabar Kiss…moga sehat dan bahagia bersama keluarga..).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Kreativitas anak Graminea emang membuahkan hasil yg baik, pokoknya walau pontang-panting..kegiatan itu sukses terlaksana…karena ada Udur yang luar biasa, Erwan yang ga kenal lelah, bantuan dari Paman Udhin alian Udhin CF (Chairuddin Fadli) dan Paman Arif (Arif Forqan), simpatisan Mapala yg banyak membantu…Salut dan Hormatku buat kalian berdua…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Lain Hal lagi neh waktu ngikutin atawa menghadiri undangan Dies Natalis Mapas Unpar, waduh..seru banget deh yang satu ini, waktu itu yang berangkat Aku sendiri, Udur, Win, Beno dan “si bungsu” Irvan Syarif…apa khabar kalian sekarang..??<span> </span>Waktu kegiatan ini, sempat juga “rebutan” cewe...pokoknya ngaku dulu-duluan kenal deh..<span> </span>tapi cerita tentang ini nanti aja yah…ntar kepanjangan…di epesode berikutnya deh….ga masalah tohk..??</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Makasih deh atas pengertiannya….</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pupuk Alami]]></title>
<link>http://graminea.wordpress.com/?p=82</link>
<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 17:15:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>hijau</dc:creator>
<guid>http://graminea.es.wordpress.com/2008/08/22/pupuk-alami/</guid>
<description><![CDATA[by : Rudhy Udhoer Redhanie
Tanaman seperti halnya mahluk hidup memerlukan makanan/hara untuk hidup d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>by : <em>Rudhy Udhoer Redhanie</em><br />
Tanaman seperti halnya mahluk hidup memerlukan makanan/hara untuk hidup dan berkembang biak. Tanaman memperoleh makanan terutama dari cadangan mineral yang ada di dalam tanah yang terkandung dalam bahan organik, limbah organik, bakteri penambat nitrogen, endapan melalui udara, dll. Unsur hara diperoleh tanaman dari tanah diubah menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesa tumbuhan/tanaman<br />
Ketersediaan makanan tumbuhan dipengaruhi oleh kesuburan tanah. Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menyediakan hara dalam jumlah cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan. Definisi ini seringkali dipahami terlalu sempit dengan hanya mempertimbangkan sifat kimia/kesuburan tanah yang hanya menyangkut jumlah dan ketersediaan unsur hara yang dikandung tanah. Konsep kesuburan tanah sebenarnya jauh lebih luas. Aspek keseuburan adalah sifat fisik tanah, kerapatan lindak tanah, kedalam perakaran, struktur dan porositas tanah/kerenggangan tanah/kemampuan meresapkan air.<br />
Untuk mendapatkan kesuburan tanah diperlukan penambahan bahan-bahan yang mengandung unsur hara. Unsur hara organik dapat diperoleh dari sisa hasil panen, bahan yang berasal dari luar usaha, bisa juga berasal dari tanaman kacang-kacangan, dll. Salah satu langkah untuk mengmbalikan kesuburan tanah Usaha pertanian organik seringkali dilakukan dengan mengembalikan sisa hasil  panen ke sawah, namun daur limbah pertanaman ini tidak cukup untuk menggantikan keseluruhan unsur hara yang hilang. Perbaikan kesuburan tanah dapat diusahakan dengan membuat pupuk organik sendiri.<br />
<!--more--><strong>Pupuk organik</strong></p>
<p>Pupuk organik merupakan pupuk yang bahannya berasal dari bahan organik seperti: tanaman, hewan ataupun limbah organik. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk organik misalnya: jerami, tanaman perdu, tanaman legum, sekam, bekas gergajian kayu, dll. Pupuk organik menjadi bahan untuk perbaikan struktur tanah yang terbaik dan alami. Pemberian pupuk organik pada tanah akan memperbaiki struktur tanah dan menyebabkan tanah mampu mengikat air lebih banyak.<br />
Pupuk organik memiliki ciri-ciri umum memiliki kandungan hara rendah, namun  kandungan hara bervaraiasi tergantung bahan yang digunakan; ketersediaan unsur hara lambat, hara tidak dapat langsung diserap oleh tanaman, memerlukan perobakan atau dikomposisi baru dapat terserap oleh tanaman; jumlah hara tersedia dalam jumlah yang terbatas.<br />
<strong>Pengaruh pupuk organik </strong></p>
<p>Meski memiliki kelemahan pupuk organik mempunyai banyak kelebihan dan keuntungan. Penggunaan pupuk organik membuat tanah menjadi gembur sehingga mudah terjadi sirkulasi udara dan mudah ditembus perakaran tanaman. Untuk tanah yang bertekstur pasiran bahan organik akan meningkatkan pengikatan antar partikel tanah dan meningkatkan kemampuan mengikat air. Selain memperbaiki sifat fisik tanah pupuk organik juga memperbaiki sifat kimia tanah, yaitu dengan membantu proses pelapukan  bahan mineral. Bahan organik juga memberikan makanan bagi kehidupan mikrobia dalam tanah. Bahan organik dalam tanah mempengaruhi jumlah mikrobia yang ada dalam tanah.</p>
<p><strong>Berbagai jenis pupuk organi</strong><strong>k</strong></p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemui berbagai jenis pupuk organik. Berbagai jenis bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk organik misalnya:<br />
1. Pupuk  hijau<br />
Pupuk hijau adalah pupuk yang terdiri dari daun-daunan yang mudah membusuk dalam tanah. Daun-daunan dapat langsung dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk hijau. Unsur hara yang terdapat pupuk hijau misalnya: N, P, K, dan unsur lainnya. Contoh pupuk hijau yang mudah didapat adalah sisa hasil pertanian. Sisa hasil pertanian banyak mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Pengembalian sisa tanaman diperlukan untuk mengembalikan unsur-unsur yang diambil tanaman unutk pertumbuhannya kembali lagi ke lahan pertanian. Upaya ini untuk menjaga kesuburan tanah.<br />
Pengembalian sisa tanaman perlu memperhatikan agar proses peruraian bahan organik tidak mengganggu tanaman musim tanam berikutnya. Penanaman tanaman sebaiknya menunggu proses peruraian sempurna. Pada saat proses peruraian bahan organik jika terdapat tanaman bisa menyebabkan tanaman sakit. Perlu diperhatikan agar proses peruraian bahan organik tidak mengganggu kesehatan tanaman. Proses peruraian bahan organik tergantung jenis bahan/sisa tanaman.<br />
a.     Tanaman Legum<br />
Pupuk hijau dapat juga ditanam pada waktu sela antar waktu tanam. Contoh tanaman pupuk hijau adalah tanaman kacang-kacangan. Tanaman kacang-kacangan biasanya mempunyai bintil akar. Dalam bintil akar tersebut hidup bakteri yang dapat menambat N2 dari udara yang diperlukan tanaman. Karena itu, bintil akar dapat disebut sebagai “pabrik” pupuk nitrogen alami. Contoh tanaman ini adalah: kacang tanah, kedelai, kacang hijau, dll. Sebagai contoh, tanaman kedelai dapat menambat nitrogen antara 60-168 kg/ha/tahun; kacang tanah 72-142/ha/tahun.<br />
Tanaman legum atau kacang-kacangan mengandung nitrogen lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman non-legum. Daun tanaman legum dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau diproses menjadi kompos. Daun tanaman legum sebagai pupuk hijau dapat digunakan secara langsung. Selain daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau bahan kompos tanaman legum juga dapat mengikat nitrogen dari udara. Bintil-bintil akar dari tanaman legum mempunyai kandungan nitrogen yang cukup tinggi. Di dalam bintil akar ini hidup bakteri yang mampu menambat N2 dari udara. Karenanya bintil akar pada tanaman legum dapat dipandang sebagai “pabrik” nitrogen (kalau pupuk kimia urea) alami.<br />
Pemanfaatan waktu sela bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman pupuk hijau. Pemanfaatan waktu sela untuk tanaman pupuk hijau lebih baik jika mempertimbangkan sfiat tanaman sebagai berikut:<br />
-    tanaman lokal, sehingga murah dan mudah didapat<br />
-    cepat berkembang biak dan mengandung unsur hara tinggi<br />
-    mudah tumbuh<br />
-    berupa tanaman semusim dan tidak berkayu serta tumbuh subur<br />
-    bisa tumbuh pada lahan yang ada tanpa persiapan lahan. Ditanam dengan cara ditugal atau disebar<br />
-    tanaman tahan terhadap naungan atau tahan terhadap kekeringan<br />
-    mampu menutup tanah dengan baik dan bisa melilit/merambat pada batang/tanggul sisa tanaman di lahan<br />
-    mudah dibenamkan dalam tanah<br />
Dengan kemampuannya menambat nitrogen dari udara tersebut tanaman legum menjadi sumber unsur hara nitrogen bagi ekosistem tanah. Keunggulan lainnya adalah mudah terurai di dalam tanah sehingga mempercepat penyiapan unsur hara bagi tanaman. Conoth legum adalah pupuk hijau lainnya seperti: orok-orok, lamtoro, turi, dadap, sengon laut, crolataria, gamal, kacang tunggak, kacang buncis dll.<br />
b.     Jerami<br />
Jerami pada tanaman padi banyak sekali mengandung unsur nitrogen. Jerami padi merupakan sumber pupuk organik yang tersedia langsung di lahan pertanian. Mengembalikan jerami ke lahan tanaman adalah sama dengan memberikan pupuk ke dalam tanah. Dalam jerami mengandung banyak sekali unusr nitrogen karena sepertiga unsur nitrogen yang terserap tanaman padi tertinggal pada jerami. Ada berbagai macam cara dalam menangani jerami padi. Pertama jerami langsung ditebarkan ke atas lahan kemudian dibajak sehingga jerami bercampur dengan tanah. Atau mengolahnya dahulu menjadi kompos. Dalam jerami setiap 1,5 ton atau setara dengan 1 ton gabah kering mengandung 9 kg nitrogen, 2 kg  Pospor, 25 kg Silikat, 6 kg Calsium, dan 2 kg Magnesium.Penggunaan jerami selain untuk dikembalikan ke dalam tanah sangat merugikan.<br />
Pembakaran jerami tidak adalah sesuatu yang tidak benar. Pembakaran jerami menyebabkan hilangnya 93% unsur nitrogen dan kalium sebesar 20%. Jika jerami ditimbun di pinggir sawah menyebabkan proses penguraian menjadi lambat. Cairan yang dikeluarkan timbunan jerami akan mematikan tanaman di sekitarnya. Timbunan jerami juga dapat menjadi sarang tikus. Dengan mengembalikan jerami akan mengembalikan unsur pospor, besi, dan juga sulfur dan seng.<br />
Cara pengembalian jerami ke lahan adalah dengan membenamkan  pada lahan pertanian satu bulan menjelang tanam. Hal ini unutk mneghindari proses peruraian jerami mengganggu pertumbuhan tanaman. Dengan pembenaman jerami ketersediaan unsur hara dalam tanah akan mneingkat. Namun ada beberapa kendala yang dihadapi dalam memproses jerami menjadi pupuk ini.<br />
1.    penyebaran jerami memerlukan tenaga<br />
2.    menyulitkan pengolahan<br />
3.    dapat terjadi, jerami menjadi sarang serangga<br />
Untuk mengatasi tenaga kerja karenanya dapat dilakukan penyebaran jerami secara langsung ke atas lahan tanaman. Dan mendiamkannya selama 1 minggu agar jerami menjadi busuk. Tetapi cara ini mengurangi kandungan unusr hara dalam jerami.<br />
c.    Sekam padi<br />
Sekam padi dapat digunakan untuk memperbaiki struktur tanah dan menambah unusr hara tanah. Penggunaan sekam padi juga akan memperbaiki sifat fisik tanah dengan mengurangi kepadatan tanah. Adanya sekam padi memperluas ketersediaan lengas tanah. Pembenaman sekam secara tidak langsung juga memperbaiki sifat fisik tanah.<br />
d.    Azolla<br />
Azolla merupakan jenis tanaman pakuan yang hidup pada lingkungan perairan dan mempunyai sebaran yang luas. Seperti tanaman legum, tanaman azolla mampu mengikat N2 dari udara. Azolla relatif toleran terhadap kondisi tanah yang asam, sehingga pengembangan azolla tidak memerlukan perlakukan khusus. Azolla merupakan jenis tanaman air yang banyak tumbuh di sawah yang tergenang. Azolla dapat dikembangbiakkan di sebagian petak sawah sebelum ditanami. Karena perkembangan azolla yang cepat ia dapat segera memenuhi seluruh lahan sawah. Azolla mampu berkembang mencapai 100 kali dalam waktu 15 s/d 20 hari.<br />
Azolla dapat digunakan dengan membenamkannya secara langsung ke dalam tanah. Hal ini disebabkan karena azolla mudah terurai atau terdekomposisi. Bahkan azolla dapat digunakan sesudah masa tanam. Pembenaman azolla akan meningkatkan bahan organik tanah. 5 ton azolla setara dengan nitrogen seberat 30 kg. Karenanya kebutuhan nitrogen untuk tanaman padi dapat digantikan dengan pemanfaatan azolla.<br />
Keunggulan lain dari azolla adalah kemampuannya menekan pertumbuhan gulma air  dan dapat dibudidayakan bersama dengan tanaman padi. Dengan perkembangannya yang cepat azolla menekan pertumbuhan gulma sehingga menekan biaya penyiangan tanaman padi. Namun yang menjadi kendala adalah kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman azolla. Jika masalah air dapat terpenuhi, maka budidaya tanaman azolla tidak menjadi masalah. Sebab tanaman azolla perlu genangan air.<br />
2. Pupuk Kompos<br />
Kompos adalah peruraian bahan organik oleh jasad renik (mikrobia). Pemberian kompos tidak hanya memperkaya unsur hara bagi tanamn, namun juga berperanan dalam memperbaiki struktur tanah, tata udara dan air dalam tanah, mengikat unsur hara dan memberikan makanan bagi jasad renik yang ada dalam tanah sehingga meningkatkan peran mikrobia dalam menjaga kesuburan tanah. Pembuatan kompos juga relatif mudah. Unutk membuat kompos perlu dipertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:<br />
a.    Bahan sebaiknya berukuran kecil, bebas dari tanaman yang terserang penyakit, akar-akar rumput jahat seperti: alang-alang, rumput jampang, rumput grinting, rumput yang banyak biji, bahan akar tanaman yang mengganggu.<br />
b.    Bila bahan yang digunakan sedikit mengandung unsur nitrogen sebaiknya ditambah dengan bahan yang banyak mengandung nitrogen<br />
c.    Tempat sebaiknya tidak terlalu besar agar memudahkan pembalikan, pengaturan suhu dan tata udaranya lancar.<br />
e.    Kelembaban udara perlu diatur agar tidak terlalu kering dan basah<br />
Membuat Kompos<br />
Bahan<br />
a.     Jerami<br />
b. Daun-daunan, pelepah pisang, potongan rumput, sisa hasil pertanian<br />
c.     Pupuk kandang: kotoran itik, ayam, sapi, kambing,<br />
d.     Abu dapur<br />
e.     Kapur<br />
f.     EM-Lestari<br />
Cara Pembuatan<br />
Timbun bahan-bahan tersebuts ecara berlapis-lapis kecuali EM-lestari<br />
a.     Lapisan pertama dalah jerami 15 cm<br />
b.     Lapisan kedua pupuk kandang 5 cm<br />
c.     Lapisan ketiga bahan organik: pelepah pisang, potongan rumput, daun-daunan, dll, setinggi 30 cm<br />
d.     Lapisan keempat abu dapur/kapur setinggi 2 cm<br />
f.     Lapisan kelima pupuk kandang setinggi 5 cm<br />
Setiap menumpuk satu lapisan kemudian disiram dengan larutan EM-lestari yang sudah diencerkan. Setiap 1 gelas EM-lestari dicampur dengan satu ember air dan kemudian disiram-siramkan pada setiap lapisan. Penyiraman hendaknya hati-hati agar tidak terlalu basah.<br />
Penimbunan tersebut bisa berulang-ulang sampai setinggi 1 s/d  1,5 meter. Hal ini untuk menjaga agar proses pengadukan bisa mudah.<br />
Lapisan paling akhir adalah lapisan tanah yang subur. Setelah itu tutuplah dengan bahan bukan plastik. Bila kompos terasa panas aduklah agar terjadi proses pengaliran udara dan pencampuran bahan. Diperkirakan setelah 15 hari atau 2 minggu kompos sudah dapat digunakan.<br />
Prinsip pembuatan kompos<br />
a.     Menjaga kelembaban<br />
Kelembaban berperanan penting dalam proses pembuatan kompos dan mutu kompos. Kelembaban optimum adalah 50-60%. Rndahnya kelembaban udara menurunkan proses penguraian, bila terlalu tinggi menghambat aliran udara.<br />
b.     Pembalikan<br />
Pembalikan diperlukan agar kompos tidak kekurangan udara dan mempercepat proses penguraian. Proses penguraian akan berjalan lambat jika kompos kekurangan udara.<br />
c.     Peneduh<br />
Agar proses penguraian bahan organik berlangsung  sempurna usahakan  tempat pembuatan kompos terlindung dari hujan dan sinar matahari secara langsung. Karenanya tempat kompos perlu dibuatkan pelindung.<br />
3.     Pupuk kandang<br />
Pupuk kandang merupakan pilihan pupuk organik yang bisa dimanfaatkan. Kandungan unsur hara dalam pupuk kandang tersebut tergantung dari jenis ternak dan makanan ternak yang diberikan, air yang diminum, umur ternak, dll. Hindarkan pemakaian pupuk kandang yang masih baru, sebab pupuk kandang yang masih baru belum masak benar, dan suhunya masih tinggi.<br />
Agar pupuk kandang terurai sebelum digunkaan pupuk kandang perlu ditimbun di tempat yang teduh dan tidak boleh kering. Untuk mempercepat proses peruraian pupuk kandang perlu diaduk.Tanda-tanda pupuk yang sudah mengalami peruraian adalah:<br />
-    tidak panas, temperatur sama dengan tanah sekitar<br />
-    kotoran dan rumput-rumputan tidak nampak<br />
-    warna agak kehitam-hitaman<br />
-    mudah ditaburkan<br />
Cara penggunaan<br />
Penggunaan pupuk organis: pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau diberikan pada saat sebelum tanam atau saat tanaman sudah tumbuh. Pupuk dimasukkan ke dalam tanah atau dicampur dengan tanah sedalam 20 cm. Bisa juga dengan membuatkan alur-alur pada tanah dan ini dilakukan 1 minggu sebelum tanam. Pada waktu tanaman hendak ditanam pupuk diaduk dengan tanah. Jumlah pupuk yang diberikan tergantung jenis tanaman.<br />
Permasalahan yang sering menghambat penggunaan pupuk organik adalah karena pupuk tersebut tidak praktis, kotor, dan jumlahnya banyak (ruah). Oleh karenanya kebanyakan petani yang sudah terbiasa dengan hal yang mudah dan praktis enggan menggunakan pupuk organik. Dengan kondisi tanah yang semakin rusak ditambah kenaikan harga pupuk kimia, pilihan penggunaan pupuk organik tidak harus ditunda-tunda lagi. Dalam penggunaan pupuk organik ada berbagai pilihan yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi setempat.<br />
Pupuk kandang kering<br />
Agar pupuk kandang tidak terlihat kotor dan menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap tanaman serta mudah dibawa pupuk kadang dapat dikeringkan terlebih dahulu. Penggunaan pupuk kandang secara kering mengurangi pengaruh kenaikan temperatur selama proses peruraian dan terjadinya kekurangan nitrogen bagi tanaman.<br />
Proses pengeringan dapat dilakukan dengan mencampur pupuk kandang dengan debu, lumpur kering, abu bakaran dapur atau abu bakaran. Setelah proses pencampuran letakanlah di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung dan ditutup sampai pupuk tersebut digunakan. Komposisi campuran 40% pupuk kandang 30% debu dan 30% lumpur kering.<br />
Pupuk kandang cair<br />
Pupuk kandang dapat pula digunakan dalam bentuk cair. Pupuk kandang cair dapat dibuat dengan mencampur kotoran hewan dengan air lalu  diaduk. Setelah larutan tercampur rata simpanlah di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung dengan memberi penutup/pelindung. Biarkan agar terjadi proses fermentasi seblum digunakan. Penyimpanan pupuk kandang cair dilakukan dalam kondisi tertutup agar udara tidak dapat masuk. Hal ini dilakukan untuk menekan kehilangan nitrogen dalam bentuk gas amoniak yang menguap. Dengan menyimpannya terlebih dahulu sebelum digunakan akan meningkatkan kandungan fosfat dan membuat kandungan hara menjadi seimbang. Penggunaan pupuk kandang cair juga akan meningkatkan efisiensi penggunaan fosfat oleh tanaman.<br />
Dalam penggunaan pupuk kandang perlu diwaspadai dalam pengggunaan langsung dalam tanaman adalah kemungkinan adanya kandungan gulma, organisme penyebab penyakit yang terkandung dalam pupuk kandang/kotoran hewan. Penggunaan secara langsung kemungkinan besar akan terjadi panas karena proses penguraian.<br />
Kelebihan.<br />
Pupuk kandang merupakan pupuk organik dapat berperanan sebagai bahan pembenah tanah. Pupuk kandang dapat mencegah erosi, pergerakan tanah dan retakan tanah. Pupuk kandang dan pupuk organik lainnya meningkatkan kemampuan tanah mengikat kelembaban, memperbaiki struktur tanah dan pengatusan tanah. Pupuk kandang memacu pertumbuhan dan perkembang bakteri dan mahluk tanah lainnya. Pupuk kandangan mempunyai kandungan unsur N, P, K rendah, tetapi banyak mengandung unsur mikro. Kandungan unsur nitrogen dalam pupuk kandang akan dilepaskan secara perlahan-lahan. Dengan demikian pemberian pupuk kandang yang berkelanjutan akan membantu dalam membangun kesuburan tanah dalam jangka panjang.<br />
Nilai dari pupuk kandang tidak hanya didasarkan pada pasokan jumlahnya tetapi jumlah nitrogen dan zat yang terkandung. Nitrogen yang dilepaskan dengan adanya aktivitas mikroorganisme kemudian dimanfaatkan oleh tanaman.<br />
Berbagai contoh di atas memperlihatkan bahwa banyak sekali bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk. Memang dalam penggunaannya pupuk organik ini memiliki kelemahan dibandingkan dengan pupuk kimia. Meskipun begitu pupuk organik memiliki banyak kelebihan yang tidak dapat digantikan oleh pupuk kimia. Selain itu penggunaan pupuk organik dapat melepaskan ketergantungan petani dari dunia luar dalam hal ini pabrik pupuk. Dengan membiasakan kembali penggunaan pupuk organik akan menjadikan petani tidak menjadi tidak terombang-ambingkan oleh perusahaan-perusahaan pupuk baik kimia maupun pabrik pupuk organik.<br />
4.    Pupuk cair<br />
Banyaknya kandungan unsur hara yang ada di dalam lahan pertanian yang ada di lahan saudara dapat dilihat secara sederhana dari  penampakan warna tanaman di lahan saudara. Misalnya ada tanaman yang kelihatan hijau sementara yang lainnya terlihat kekuningan. Tanaman hijau menggambarkan bahwa tanah tersebut mempunyai cukup unsur hara. Sedangkan tanaman yang berwarna kuning biasanya menunjukkan bahwa tanah tersebut tidak cukup mempunyai unsur hara.<br />
Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Kehidupan binatang di dalam tanah juga terpacu dengan penggunaan pupuk cair. Pupuk cair tersebut dapat dibuat dari kotoran hewan yang masih baru. Kotoran hewan yang dapat digunakan misalnya kotoran kambing, domba, kelinci atau ternak lainnya.<br />
Pembuatan pupuk cair dapat dilakukan dengan cara menempatkan kotoran ternak ke dalam goni. Kumpulkan 30-50 kg kotoran ternak yang masih segar. Masukkan dalam karung goni dan ikatlah karung tersebut. Masukkan karung yang berisi kotoran ke dalam drum yang berisi air 200 liter air. Dengan mengangkat ke atas dan kebawah dalam drum maka kotoran ternak tersebut akan muda larut. Lakukan setiap 3 hari. Dibutuhkan waktu kira-kira 2 minggu untuk melarutkan semua unsur hara dalam pupuk ke dalam air. Larutan siap bila warna ini berubah menjadi coklat tua. Cara lain, untuk memperkirakan kapan larutan telah siap/jadi adalah melalui penciuman. Hari pertama akan terasa bau amoniak yang kuat. Setelah 10-14 hari, bau tersebut menjadi berkurang.<br />
Larutan tersebut merupakan pupuk cair yang bagus untuk memupuk pertumbuhan tanaman. Pupuk ini dapat digunakan untuk berbagai macam tanaman. Untuk mendapatkan hasil yang bagus lebih baik pupuk cair tersebut diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Untuk satu bagian larutan, tambahkan 1 atau 2 bagian air. Larutan tersebut digunakan untuk menyiram tanaman, di sekeliling tanaman. Beberapa tanaman dapat juga langsung menggunakan pupuk cair tersebut misalnya jagung. Ampas dari sisa pupuk cair ini dapat digunakan sebagai mulsa tanaman atau ditambahkan untuk pembuatan kompos.<br />
a.    Manfaat<br />
Pupuk cair lebih mudah terserap oleh tanamn karena unsur-unsur di dalamnya sudah terurai. Tanaman menyerap hara terutama melalui akar, namun daun juga punya kemampuan menyerap hara. Sehingga ada manfaatnya apabila pupuk cair tidak hanya diberikan di sekitar tanaman, tapi juga di atas daun-daun.<br />
Penggunaan pupuk cair lebih memudahkan pekerjaan, dan penggunaan pupuk cair berarti kita melakukan tiga macam proses dalam sekali pekerjaan, yaitu :<br />
-    Memupuk tanaman<br />
-    Menyiram tanaman<br />
-    Mengobati tanaman<br />
b.    Bahan<br />
Pupuk cair bisa dibuat dari bahan yang mempunyai unsur-unsur yang mudah atau bisa terurai di dalam air, misalnya:<br />
-    Pupuk hewan<br />
-    Daun-daunan (terutama dari kacang-kacangan)<br />
-    Kompos<br />
Cara pembuatan :<br />
Masukkan kotoran hewan dalam goni dan rendamlah dalam drum tertutup. Aduklah pupuk cair dalam drum sekali seminggu. Setelah beberapa minggu pupuk dapat digunakan. Lama waktu pembuatan.:<br />
-    Pupuk cair dari daun/kompos setelah 2 minggu;<br />
-    Pupuk cair dari pupuk kandang setelah 3 minggu ;<br />
Untuk penggunaan bisa juga dicampurkan dengan berbagai bahan organik. Campuran :<br />
-    Daun / kompos : 1 bagian pupuk cair dengan 3 bagian air,<br />
-    Pupuk kandang : 1 bagian pupuk cair dengan 5 bagian air ;<br />
c.    Penggunaan<br />
Pemakaian pupuk cair adalah waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah perkecambahan Penggunaan pupuk cair adalah terutama untuk tanaman di persemaian atau di kebun kecil, karena jumlah pupuk cair terbatas.<br />
Waktu pemupukan sebaiknya pagi atau sore hari, sehingga pupuk cair tidak cepat menguap atau tidak hilang oleh hujan. Untuk menghindari supaya daun tanaman tidak terbakar encerkan pupuk cair. Mulailah dengan campuran yang paling encer terlebih dahulu.<br />
5.    Pupuk daun<br />
Pupuk daun akan menjadikan tanaman lebih baik dan sehat. Pemberian pupuk daun diberikan melalui pencampuran pupuk dengan tanah agar diserap melalui akar.<br />
Banyak petani menanam tanaman yang lebih sehat dengan pemakaian pupuk. Pupuk memberi makan pada tanaman dalam bentuk hara untuk membuat tanaman lebih kuat. Biasanya pupuk dicampur dengan tanah dan di serap tanaman melalui perakaran. Pupuk daun masuk ke dalam tanaman melalui lubang-lubang kecil pada daun yang disebut mulut daun (stomata). Lubang-lubang ini membuka dan menutup dan begitu kecil, sehingga kita tidak dapat melihatnya<br />
Tanaman bernapas melalui lubang-lubang kecil tersebut. Lubang-lubang kecil tersebut juga digunakan tanaman untuk mengambil unsur hara dari udara. Mulut daun ini biasanya terbuka sepanjang malam sampai pagi hari, dan tertutup  pada tengah hari untuk menjaga kelembaban.<br />
Mungkin kita sering menggunakan pupuk daun sebagai penambah unsur hara bagi tanaman agar tumbuh lebih sehat dan kuat dan tumbuh lebih cepat sehingga mampu melawan hama dan penyakit.<br />
Pupuk daun biasanya dibuat dari bahan yang mengandung hara yang diperlukan tanaman seperti besi, belerang, nitrogen dan kalium. Pemberian hara tambahan ini pada tanaman akan membantunya tumbuh lebih kuat dan lebih sehat.<br />
Pupuk daun dapat dibuat dari tanaman-tanamn lokal yang ada di sekitar kita yang mengandung unsur-unsur besi, belerang, nitrogen dan kalium. Tanaman tersebut misalnya sejenis Solanum nigrum/terung leuca.<br />
Cara<br />
Ambillah setengah kilogram daun Solanum nigrum. Berilah 4 liter air dan didihkan campuran tersebut selama 15 menit  Biarkan larutan tersebut menjadi dingin. Setelah dingin saringlah larutan tersebut. Campurlah larutan tersebut dengan 32 liter air. Gunakan untuk memupuk tanaman. Caranya dengan menyemprotkannya pada daun tanaman. Untuk mendapatkan kekentalan yang lebih anda bisa mengurangi jumlah air campuran. Atau menambah jumlah daun. Waktu yang terbaik untuk menyemprotkan pupuk daun adalah sore hari. Penyemprotan disarankan untuk diulangi setiap 5 hari sekali hingga saat panen.<br />
Yang perlu diingat adalah bahwa pupuk daun dapat menyebabkan daun-daun lunak terbakar karenanya harus hati-hati jangan sampai larutan terlalu pekat. Karenanya pupuk daun harus diencerkan terlebih dahulu. Paling sedikit 4 bagian air ditambahkan pada laurutan. Adakan percobaan dengan konsentrasi (kepekatan) yang berbeda-beda. Anda bisa melakukan percobaan dengan tanaman lain yang mungkin lebih bagus. Daun tanaman kacang-kacangan mungkin lebih baik. Langkah yang lebih baik juga anda dapat melakukan uji coba dengan beberapa baris dan menandainya. Kepekatan campuran yang terbaik akan anda dapatkan dengan pengujian tersebut.<br />
6.    Bokashi<br />
Bokashi adalah salah satu cara untuk membuat pupuk organik yang juga mudah dilakukan.<br />
Bahan<br />
a.    Kotoran ayam  60%<br />
b.    Tanah  25%<br />
c.    Merang padi  10%<br />
d.    Bungkil/ampas 5%<br />
Jika bahan hanya terdiri dari kotoran ayam saja maka tumpukan akan kekurangan udara. Padahal proses fermentasi sangat membutuhkan udara, air dan panas. Proses fermentasi bokashi ini normal terjadi dalam waktu 14 s/d 21 hari. Jagalah agar kandungan air dalam tumpukan calon bokashi ini cukup. Temperatur bokashi jika fermentasi terjadi akan berkisar 40 s/d 450 C. Jika melebihi suhu tersebut tambahkan air untuk menurunkan temperatur. Jika temperatur di bawah kondisi normal tambahkan tanah atau merang padi sehingga kandungan air terserap ke dalam tanah atau merang padi tersebut.<br />
7.    Pupuk KCl.<br />
Pupuk KCl sebenarnya dapat dibuat sendir meski kandungan KCl-nya tidak sebesar kandungan pupuk KCL dari pabrik.<br />
Bahan:<br />
a. Sabut kelapa<br />
b. Air<br />
c. Drum<br />
Cara pembuatan:<br />
Masukkan sabut kelapa ke dalam drum sampai berisi setengahnya. Isilah drum dengan air sampai penuh. Tutuplah drum rapat-rapat.  Biarkan drum dalam keadaan tertutup selama 2 minggu. Bila air berubah menjadi hitam kandungan KCl dalam sabut kelapa sudah larut. Air tersebut bisa langsung digunakan sebagai pupuk tanaman.<br />
Caranya<br />
Ambilah air dalam drum gunakan siramkan pada tanaman. Penyiraman pada tanaman bisa dilakukan berkali-kali tergantung kebutuhan. Setelah air diambil semuanya sabut kelapa tersebut masih bisa diberi air dan dengan perlakuan sama dan digunakan sebagai pupuk lagi. Bila warna air sudah jernih sabut kelapa harus diganti dengan yang baru.<br />
8. Mengumpulkan mikroorganisme<br />
Mikroorganisme dapat ditemukan di semua tempat, terutama pada bahan organik. Organisme mikro hidup di sekitar atau di bawah tempat yang teduh dan memakan sisa bahan organik. Organisme mikro yang dibutuhkan untuk pertanian dan akan dikumpulkan di sini paling banyak terdapat di bawah akar pohon bambu. Karena pohon bambu mengeluarkan getah manis yang merupakan bahan makanan bagi organisme mikro.<br />
Cara untuk mengumpulkan organisme mikro adalah:<br />
1.    Masak beras putih sedikit keras (air sedikit dikurangi.<br />
2.    Setelah nasi tersedia, letakkan dalam wadah kayu atau plastik dengan ketebalan tidak lebih dari 7 cm. Bila terlalu tebal, organisme mikro akan kekurangan oksigen.<br />
3.    Tutupi nasi tersebut dengan  kertas (jangan menggunakan kain karena dapat menyerap air).<br />
4.    Kuburkan nasi tersebut di bawah pohon bambu dan tutupi dengan plastik agar tidak kehujanan dan tutupi juga dengan kawat kasa agar tidak dimakan tikus.<br />
5.    Biarkan selama 3 hari<br />
Cara penggunaan.<br />
1.    Campurkan nasi tersebut dengan gula coklat denga perbandingan 1 : 1. Peras campuran tersebut hingga ada cairan lengket yang keluar. Cairan inilah yang digunakan.<br />
2.    Simpan dalam wadah dan letakkan dalam tempat sejuk dan terlindung dari sinar  matahari selama 3 hari.<br />
4.    Campurlah cairan ini dengan air dengan perbandingan 1 : 1000 (satu banding seribu)<br />
5.    Campurlah air tersebut dengan dedak padi sehingga mempunyai kelembaban 50% (bila dedak sudah dapat dikepal dan membentuk bola berarti kelembaban sudah cukup).<br />
6.    Tutupi campuran dedak ini dengan jerami padi setebal 1 cm.<br />
8.    Biarkan selama 7 s/d 10 hari. Setelah itu bisa digunakan untuk mempercepat pembuatan kompos dan pelapukan sisa tanaman<br />
Cara penggunaan:<br />
Sebarkan dan campurkan bahan tersebut apda bahan kompos yang akan dibuat.</p>
<p>Fermentasi sari tanaman<br />
Daun tanaman dapat dimanfaatkan untuk bahan baku mengumpulkan mikroorganisme. Fungsi dari sari tanaman ini adalah memberi makanan pada mikroorganisme. Bahan-bahan yang diperlukan adalah 6 kg sayuran, daun-daunan atau batang pisang. 3 kg gula.<br />
1.    Sayuran, daun atau batang pisang dipetik sebelum matahari muncul atau sebelum embun padi hilang, karena embun pagi sangat sesuai untuk aktifitas mikroorganisme. semua bagian tanaman dapat digunakan<br />
2.    Sayuran jangan dicuci. Cincang menjadi 3 s/d 5 bagian. Bila batang pisang potong setebal 2 cm dan kemudian diperkecil menjadi 1 s/d 2 bagian. Bahan yang dibutuhkan sekitar 6 kg.<br />
3.    Bagilah sayuran menjadi dua bagian sama besar.<br />
4.    Ambil bagian pertama dan letakkan dalam wadah tanah liat. Campur dengan 1 kg gula coklat. Padatkan campuran tersebut.<br />
5.     Ambilah bagian yang lain dan campurlah dengan gula coklat 1 kg masukkan dalam wadah yang sama dan tekanlah hingga padat.Tambahkan 1 kg gula coklat di atas kedua campuran tersebut.<br />
6.     Ambillah kantong plastik dan penuhilah dengan air dan ikatlah. Letakkan kantong ini di atas sehingga campuran tetap berada di bawah  dan tidak ada udara dalam campuran. Tutupi wadah tersebut dengan kertas dan biarkan selama 1 hari.<br />
7.     Buang kantong air dan tutupi kembali wadah tersebut. Letakkan wadah pada tempat yang tidak ada semutnya. Biarkan selama 5 s/d 7 hari. setelah 5 s/d 7 hari campuran ini sudah siap digunakan<br />
8.     Di sarankan untuk tidak mencampur berbagai macam sayuran atau bahan karena setiap sayuran atau bahan mempunyai mikroorganisme yang berbeda sehinga akan mempunyai pertumbuhan yang berbeda. Larutan yang baik tidak mempunyai bau alkohol.<br />
Penggunaan.<br />
Larutan ini bisa digunakan untuk  menyiram sayuran dari pembenihan hingga masa panen. campurlah bahan ini dengan perbandingan 1:500 (satu banding lima ratus). Larutan ini juga merangsang pertumbuhan tanaman, melapukkan bahan organik dalam tanah, perbaikan tanah dan mendorong kehidupan mikroorganisme dalam tanah.<br />
9.     EM-Lestari 1<br />
Bahan:<br />
1.     Buah-buahan yang sudah masak sebanyak 1 kg. Berbagai macam buah bisa digunakan sebagai bahan.<br />
2.     Tetes tebu/nira/legen/air gula 1 liter.<br />
Cara pembuatan:<br />
Buah yang sudah tua dan masak diblender lalu disaring diambil airnya. Sari buah kemudian dicampur dengan tetes/legen/aren/nira dengan perbandingan 1:1. Simpan larutan atau bahan tersebut pada tempat yang terbuat dari gerabah di tempat sejuk. Diamkan selama selama 15 hari atau dua minggu. Setelah 15 hari larutan  sudah siap digunakan. Larutan ini setelah 15 hari disimpan mempunyai  khasiat yang sama dengan EM atau M-bio. Keuntungan lainnya adalah bebas dari kimia dan dapat digunakan sebagai pupuk cair dan juga mempercepat pengomposan jerami.<br />
Untuk pupuk cair setiap 1 liter EM-Lestari dicampur dengan 10 liter air. Gunakan untuk menyiram tanaman. Larutan tersebut sudah berfungsi sebagai pestisida alami dan pupuk cair bagi tanaman, bisa juga untuk mempercepat pembuatan kompos.<br />
10.     EM- Lestari  2<br />
Bahan:<br />
1.     air leri (air cucian beras) yang kental 1 liter<br />
2.     EM-lestari 10 sendok makan<br />
3.     alkohol kadar 40% 10 sendok (bila tidak ada bisa diganti dengan air tape 30 sendok)<br />
4.     cuka 10 sendok makan<br />
5.     gula pasir 1 ons</p>
<p>Cara pembuatan:<br />
Semua bahan dicampur jadi satu dalam tempat atau wadah tertutup selama 15 hari. Kocok setiap pagi dan sore. Setelah 15 hari larutan tersebut sudah dapat digunakan dan sudah menjadi EM-lestari 2<br />
Kegunaan:<br />
EM-lestari 2 ini dapat digunakan sebagai pupuk cair dan mengendalikan hama dan penyakit tanaman.<br />
Hama yang dapat dikendalikan antara lain: wereng, ulat, walangsangit, banci dan serangga lain.<br />
Cara penggunaan:<br />
Campurlah 1 sendok EM-lestari 2 dengan 1 liter air. semprotkan pada tanaman yang terserang hama. Bila digunakan sebagai pupuk berikanlah pada akar tanaman.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yang Tersisa Dari Musta XVII]]></title>
<link>http://graminea.wordpress.com/?p=74</link>
<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 09:37:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>graminea</dc:creator>
<guid>http://graminea.es.wordpress.com/2008/08/22/yang-tersisa-dari-musta-xvii/</guid>
<description><![CDATA[Sukses sudah hajatan besar Mapala Graminea dilaksanakan, yaitu Musyawarah Anggota XVII.  Bisa dibil]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sukses sudah hajatan besar Mapala Graminea dilaksanakan, yaitu Musyawarah Anggota XVII.  Bisa dibilang musta kali ini cukup banyak di hadiri oleh tatuha (anggota LB) Mapala Graminea dari Om Achonk (mantan ketum 2 Periode... masih rekor), om Hegar ( Mantan Ketum Jua), Mang Irfan ( Mantan Ketum lagi), Mang udhur dan banyak amang-lainnya...</p>
<p>Hasil dari Musta XVII antara lain terpilihnya Purwanto sebagai Ketua Mapala Graminea yang baru, Udhin Kentung, Aboex Maulana Ashadi dan Hendri sebagai Badan Pengawas Mapala Graminea..... mudah mudahan tim Formatur yang menyusun kepengurusan bisa menemukan komposisi yang ideal untuk membawa graminea lebih maju lagi.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika kita menyatu Di Bawah Panji Hijau]]></title>
<link>http://graminea.wordpress.com/?p=59</link>
<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 23:41:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>hijau</dc:creator>
<guid>http://graminea.es.wordpress.com/2008/08/12/ketika-kita-menyatu-di-bawah-panji-hijau/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : dEr@
Kebanggaan ku pada Kalian..sahabat, teman, saudara…..
Ada kalanya kita tidak menyadari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : dEr@</p>
<p>Kebanggaan ku pada Kalian..sahabat, teman, saudara…..</p>
<p>Ada kalanya kita tidak menyadari, bahwa kita telah “di dewasakan” oleh waktu, pergaulan, persahabatan dan persaudaraan.</p>
<p>Selasa Pagi di kampus Faperta Unlam, tahun 1990….(bulan dan tanggalnya lupa..)<br />
Pagi itu ketika aku mo kuliah, di depan kampus ku liat beberapa teman sedang berkumpul.. mereka menggunakan pakaian “yang tidak lazim” untuk kuliah, lengkap dengan Ransel Besar dan berbagai keperluan camping lainnya…. Aku yang saat itu bareng ke kampus dengan Ruslan (anak asal Bima NTB angkatan 1988 ) rada penasaran, ngapain anak-anak ini kok “aneh” banget, pagi-pagi dah pada kumpul dan kayaknya siap perang.</p>
<p>Dengan sedikit penasaran, aku bertannya pada salah seorang senior (Heru Budhi Ananta, angkatan wow deh…) yang tampil dengan celana pendek dan baju planel lengkap dengan topi rimba dan slayer di leher, macam koboi salah masuk kandang…<br />
“ada acara apaan seh..?? kok kayak mo camping gitu….??”<br />
Heru menjawab..”Mo berangkat ke Mandi Angin” trs aku Tanya lagi… “Ngapain..?? boleh ikutan enggak??” Di jawab dia lagi..”Boleh, masih sempat, kita berangkat jam 10.00 Wita, kamu pulang ke rumah, siapkan peralatan camping, bawa baju kaos, jaket, kaos kaki cadangan, senter, tempat minum, nesting, bawa matras, bagus lagi kalo ada sleeping bag…”<br />
“Lho..emang wajib bawa gituan..?” Tanya ku lagi bingung….<br />
“Kamu ga usah banyak tanya, kalo mo ikut gitu syaratnya, trus kamu lapor sama Anisah (musuh besar Udur neh….he he he…) sekalian bayar Rp.7.000 sama dia..” gitu kata Heru..<br />
<!--more-->Aku ga berpikir dua kali lagi ketika tau bahwa ternyata salah satu peserta “camping” itu adalah cewek gebetan aku waktu itu..sebut saja namanya HKS (kaya di berita2 kriminal yah…he he he..)<br />
Aku lalu bilang ke Ruslan…”Ayo Lan..kita ikut..” dan ga tau kenapa Ruslan juga langsung mengiyakan trus kami segera balik ke rumah untuk mempersiapkan kebutuhan yang kata Heru BA adalah prasyarat untuk ikutan “camping” tersebut…</p>
<p>Jam menunjukan pukul 09.30 wita ketika aku dan Ruslan balik ke kampus, di depan kampus Nampak sebuah mobil truk terparkir, dan kawan-kawan yang mo ikut “camping” ajaib itu udah pada baris…Waktu itu..karena masih ga ngerti, aku lalu mendekati seorang kakak angkatan juga, namanya Noorbransyah..dan Tanya…”Boss, dimana Anisah, mo bayar neh..??”  Eh yg aku dapat bukannya jawaban tapi malah bentakkan..”Kamu terlambat ya..?? cepat kebarisan…”  Wah..dah ga bener neh..pikirku… Ruslan yang juga kaget..malah nantangin…”Kok ditanya baik-baik malah membentak..?? ya udah, ga jadi aja ikut..” gitu katanya…Rada bingung juga nampaknya Oom Noorbransyah ini…kemudian dia nanya ama yang lain…kalo ga salah ama Kang Deni (waktu itu beliau ini Ketua Senat Mahasiswa Faperta Unlam)…Entah apa yang di omongin mereka, ga jelas juga tetapi kemudian Oom Noorbransyah memanggil aku dan Ruslan, lalu menyuruh kami ke dalam kampus dan bilang Anisah ada duduk di bawah tangga depan aula sama-sama dengan Hipni dan Ali Sulaiman (yg satu ini makhluk ajaib…gelarnya Doyok..) keduanya anak angkatan 1987 sama juga dengan Anisah…<br />
Begitu ketemu Anisah dkk…aku dan Ruslan lalu menceritakan maksud kedatangan kami, trus Anisah mengeluarkan kertas berisi daftar nama lalu menulis nama kami…</p>
<p>Singkat kata urusan administrasi selesai..lalu aku dan Ruslan ke depan kampus dan ikut berbaris bersama yang lain…Nah…waktu itu, ada sesosok tubuh dekil, item, jelek…yang sedang memberi pengarahan kepada temen-temen yg berbaris..BUDI ABUK…(sorry boss, jangan marah…ente ganteng kok..hanya jarang mandi doing…ha ha ha…)<br />
Dibarisan Nampak udah ada Riyad (Ono Sutra kata Udur…), Winarso (pernah jadi Ketua MGFP ni orang), Bajuri ato lebih dikenal sebagai AGIL KIT (agak gila sedikit), Junaidi ato sering dipanggil RUMIT, Maya (sekarang dah jadi bininya Yuni Betet), Yuyun (gebetannya ketua senat..), Away (dah jadi bini si Dicky), Arif Rahmat (angkatan 86 yg telat ikut latdas), Uci (sekarang jadi bininya si Arif), Dicky (dah jadi boss, iparnya Riyad), Tika (ehem…ehem…), Elen dll…(ma’af bagi yang ga kesebut, karena kepanjangan kalo ku sebutin semua…).</p>
<p>Eh…bigitu aku ama Ruslan masuk barisan…si Budi Abuk melotot dan langsung marah-marah…tendem pula marahnya ama Bilal (tokoh revolusioner kampus pd masa itu…), terang aja kami ga terima…trus nanya..”maksudnya apa kok marah-marah…kamikan baru dating, gat au apa-apa..”  Trus Heru BA, bagaikan seorang super hero menenangkan ke dua kamerad-nya itu..lalu mulailah dia menjelaskan apa dan ngapain kami-kami ini ada di depan kampus dan mo ngapain serta mo kemana….setelah itu baru aku “NGEH” ternyata kami ini mo LATDAS MGFP ke VI…wah…nasi udah jadi bubur…dah kepalang tanggung…sekalian aja basah..wong dah kecebur…gitu pikirku waktu itu….</p>
<p>Siang hai ketika kami sampai di Mandi Angin…di jembatan 1 truk berhenti, dan kami disuruh turun…(nah lu,,,apa-apan pula ini…) dan seorang senior.(waduh..sorry banget…aku lupa namanya..tapi gelarnya Ucok kalo ga salah) menyuruh kami berbaris dan kemudian memimpin kami berjalan….Mulai deh…<br />
Cukup melelahkan juga berjalan mendaki bukit dan kemudian menerobos hutan kecil (kalo ga mo disebut semak besar…he he he…)<br />
Cukup lama juga perjalanan “seolah-olah” menerobos hutan itu kami lakukan dan akhirnya Nampak di depan kami camping ground yg udah disiapkan oleh panitia, lengkap dengan tali raffia mengelilinginya….<br />
(sampe segini dulu, episode I dari cerita ini…ntar aku sambung lagi…sabarnya....)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gestión del paisaje: Ampelodesmos mauritanica]]></title>
<link>http://cambessedes.wordpress.com/?p=11</link>
<pubDate>Sun, 09 Mar 2008 18:14:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Cambessèdes</dc:creator>
<guid>http://cambessedes.es.wordpress.com/2008/03/09/gestion-del-paisaje-ampelodesmos-mauritanica/</guid>
<description><![CDATA[Ampelodesmos mauritanica (Poiret) T.Durand &amp; Schinz (“càrritx” en catalán y “carcera” ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://farm4.static.flickr.com/3274/2320950641_8c2357a1cb_o.jpg" title="Paisaje de “carritxera”"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3274/2320950641_8c2357a1cb_o.jpg" align="left" hspace="15" vspace="15" width="260" /></a><a href="http://herbarivirtual.uib.es/cas-med/especie/4563.html"><i>Ampelodesmos mauritanica</i></a> <font color="grey">(Poiret) T.Durand &#38; Schinz</font> (“càrritx” en catalán y “carcera” en castellano [no “carrizo”]) es una gramínea de grandes dimensiones distribuida en todas las riberas mediterráneas, especialmente en la región magrebí. La especie es rara en la península: abunda sólo en el <a href="http://www.diba.es/parcsn/parcs/index.asp?Parc=10">Parque Natural del Garraf</a>, al sur de Barcelona (donde, al parecer, fue introducida en el siglo XVIII por los Salvador a partir de semillas menorquinas, por su interés económico), y se da también, escasa, en el SE ibérico. Se ha estimado que la vida del “càrritx” podría rondar los 30 años, si bien es posible que pueda vivir bastante más.</p>
<p align="justify">Esta especie ha sustentado durante siglos los rebaños monteses, y ha sido utilizada por los humanos para obtener los más diversos materiales: techados de cabañas, cordeles resistentes (el nombre genérico significa ligazón de las viñas), aislante térmico, materia prima para papel... Hoy constituye, en determinadas circunstancias, la base de la cadena trófica del ganado.</p>
<p align="justify">El “càrritx” es la especie dominante en determinadas comunidades vegetales, de una notable densidad, consistentes en herbazales altos y densos de aspecto sabanoide. Son, en la nomenclatura <a href="http://www.fomento.es/MFOM/LANG_CASTELLANO/DIRECCIONES_GENERALES/INSTITUTO_GEOGRAFICO/Teledeteccion/corine/">Corine</a>, matorrales termo-mediterráneos pre-estépicos. En la Serra de Tramuntana las “carritxeres” ocupan una extensión considerable (cerca de 20.000 ha según el inventario de la UIB para la aplicación de la <a href="http://www.mma.es/portal/secciones/biodiversidad/rednatura2000/">Red Natura 2000</a>).</p>
<p align="justify">Los botánicos las atribuyen a dos series distintas: por un lado, la de la degradación del Oleo-Ceratonion, la maquia mediterránea característica de baja altitud (12.800 ha), y por el otro, la de la garriga baleárica de altura Smilaco-balearicae-Ampelodesmetum mauritanicae, significativamente poblada de endemismos (6.500 ha). Ambas comunidades, identificables por la presencia de distintas especies características, tienen interés de conservación (especialmente la segunda de ellas) y figuran en los anexos de la <a href="http://europa.eu/scadplus/leg/es/lvb/l28076.htm">Directiva Hábitats</a>, por lo que se han identificado distintos espacios a calificar como <a href="http://www.mma.es/portal/secciones/biodiversidad/rednatura2000/rednatura_espana/lic/lic_baleares.htm">Lugares de Importancia Comunitaria</a> en la propuesta que <a href="http://www.eivissa.org/media/0000010000/0000010130.pdf">aprobó</a> el Govern de les Illes Balears en el año 2000 poblados por estas comunidades (5.679 y 3.846 ha, respectivamente).</p>
<p align="justify"><!--more--> Este tipo de vegetación está poblado de especies heliófilas, que no resistirían una cobertura densa. En otras palabras: su mantenimiento depende de que la sucesión se detenga en este estadio, y una expansión del monte mediterráneo (maquia arbustiva, pinares o encinares) sería negativo para ellas. Se trata de un elemento esencial del paisaje actual de montaña mallorquín, que además de su interés científico no está desprovisto de valor estético. Una vez la formación es densa y cerrada, sin duda supone una protección muy eficaz del suelo, al cual el “càrritx” aporta buena cantidad de materia orgánica. Desgraciadamente, no existen estudios cuantitativos sobre el particular y ni siquiera la dinámica fitosociológica precisa de estas asociaciones ha sido estudiada experimentalmente.</p>
<p align="justify"><a href="http://farm3.static.flickr.com/2284/2320991691_74ddcfb1b7_o.jpg" title="Cortaderia selloana"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2284/2320991691_74ddcfb1b7_o.jpg" align="right" hspace="15" vspace="15" width="250" /></a>La especie, además de los usos citados, tiene hoy día nuevos posibles intereses. Uno es el ornamental: en muchos ajardinamientos se usan especies del género <a href="http://herbarivirtual.uib.es/cas-med/genere/2271.html"><i>Cortaderia</i></a>, una gramínea sudamericana similar, con una peligrosa tendencia a hacerse invasora, y que bien pudiera sustituirse por la mediterránea. El gran porte de la especie y su excelente adaptación a la aridez la hace muy valiosa en los jardines mediterráneos, donde paradójicamente está poco extendida. Pese a ello, es fácil localizar en Internet la oferta de plantas de “càrritx” (a 4 €) o sus semillas (nada menos que a 7 € el gramo) con este uso. Se ha destacado tambien su posible utilidad en investigación, ya que sus núcleos celulares contienen moléculas relativamente grandes de ADN, y quizá vale la pena indicar, para cerrar este apartado, que la ergota (micotoxina) del hongo que ocasionalmente parasita sus semillas es el doble de activa que la del <a href="http://es.wikipedia.org/wiki/Claviceps_purpurea">cornezuelo del centeno</a>.</p>
<p align="justify">Las “carritxeres” son un producto de la actividad humana. Como otras formaciones vegetales de muchos lugares del mundo (sabanas africanas, landas atlánticas, etc), son el resultado de la práctica secular de los fuegos pastorales, probablemente la técnica más antigua para conseguir la mejora de los pastos, usada por nuestra especie desde hace decenas de miles de años. En Mallorca esta técnica está documentada desde los papeles botánicos más antiguos, cuando Cambessèdes ya la comenta, y la lamenta por los efectos devastadores sobre otras especies vegetales de la Serra de Tramuntana. Se ha destacado también que esta práctica tiene efectos erosivos, que son patentes en el paisaje rocoso de los lapiaces calizos de este gran espacio natural.</p>
<p align="justify"><a href="http://farm3.static.flickr.com/2018/2321767456_97526d4485_o.jpg" title="Paisaje de “carritxera”"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2018/2321767456_97526d4485_o.jpg" align="left" hspace="15" vspace="15" width="300" /></a>Pero es indudable que el uso local del fuego en la gestión del “càrritx” es mucho más antiguo, y lo más probable es que sea milenario, como está comprobado en las landas británicas, por señalar un ejemplo conocido.</p>
<p align="justify">Las hojas del “càrritx”, muy largas (hasta dos metros o más en ejemplares viejos) son coriáceas y de borde denticulado y cortante. El ganado, especialmente el lanar y el cabrío, no pueden utilizarlas en este estado. Por esta razón, los pastores las queman, de manera que los herbívoros pueden acceder en una primera fase a la base foliar (rica en reservas de carbohidratos), y posteriormente a los rebrotes tiernos (perfectamente palatables durante los dos primeros años). Se considera que las hojas de 3-4 años ya no pueden ser pastadas, al menos por el ganado menor. En cambio, el ganado bovino, y sobre todo el equino, puede aprovecharlas durante más tiempo.</p>
<p align="justify">La densidad de individuos y el reclutamiento de plántulas aumenta significativamente con la frecuencia del incendio. Además, el fuego no disminuye la probabilidad de germinación. Por tanto la alta frecuencia de incendios favorece la expansión de la especie. De ahí surge la idea de que es probable que el mantenimiento de las “carritxeres” sea insostenible sin una gestión pírica.</p>
<p align="justify">Actualmente, la siega de “càrritx” es testimonial, y sólo se usa en las sombrillas de playa, una imagen muy característica de la isla; y la gestión tradicional del mismo mediante fuego es una práctica muy regresiva. Está prohibida de mayo a septiembre, se ha erradicado de las fincas públicas (un 10% de la Serra, aproximadamente), y sólo se autorizan, en las privadas que lo solicitan, 5 ha por propiedad y año. El objetivo de esta gestión es básicamente preventivo ante los incendios, y a favor de la expansión del pino blanco, evidentemente incompatible con el fuego.</p>
<p align="justify">El trabajo de Joan Mayol del cual se ha extraido la información de esta entrada concluye que sin gestión, la formación vegetal se cierra, se incrementa el riesgo de incendio y de pérdida de biodiversidad. También sostiene que el fuego mantiene la ganadería, diversifica la vegetación ya que mantiene un mosaico en distintos estadios sucesionales y probablemente es beneficioso para distintos endemismos que, como el “càrritx”, rebrotan después del mismo. También plantea una serie de estudios necesarios para poder responder a la pregunta de si es necesario continuar con la gestión pírica:</p>
<p align="justify">● Cuantificar los procesos erosivos, que van a depender de la época del fuego y de la pendiente del terreno.</p>
<p align="justify">● Comparar la capacidad productora de la especie bajo distintos regímenes de gestión pírica.</p>
<p align="justify">● Experimentar la respuesta de la comunidad vegetal a una práctica pastoril mixta, recuperando la presencia de grandes herbívoros.</p>
<p><b>Fuentes:</b></p>
<ul>
<li><a href="http://dgcapea.caib.es/pe/documents_pe/estudis_pe/carritx.pdf">La gestión del càrritx, un dilema de conservación (Joan Mayol, 2002)</a></li>
<li><a href="http://www.globimed.net/ficheros/libros/Ecologia/Cap04%20-%20Regimen%20de%20incendios%20y%20regeneracion.pdf">Régimen de incendios y regeneración (Francisco Lloret, 2004)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Graminea]]></title>
<link>http://lechive.wordpress.com/2007/05/16/graminea/</link>
<pubDate>Wed, 16 May 2007 11:35:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Oscar Perfetti d'Empaire</dc:creator>
<guid>http://lechive.es.wordpress.com/2007/05/16/graminea/</guid>
<description><![CDATA[
Estimados lectores y veedores de fotos, ha terminado el interludio, soy el feliz dueño de una Cano]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp3.blogger.com/_ofC3NT1ANwY/Rkrt2On_GzI/AAAAAAAAACI/nDMFHpY98r8/s1600-h/Canon+Graminea+3.jpg"><img style="display:block;cursor:hand;text-align:center;margin:0 auto 10px;" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_ofC3NT1ANwY/Rkrt2On_GzI/AAAAAAAAACI/nDMFHpY98r8/s400/Canon+Graminea+3.jpg" border="0" /></a>
<div align="center"><strong><span style="color:#cc0000;">Estimados lectores y veedores de fotos, ha terminado el interludio, soy el feliz dueño de una Canon EOS 400 D, y de ahora en adelante comenzare por publicar mas fotos que anteriormente, estaré colocando fotografía artística también así que no se me pierdan.<br />Un cordial saludo</span></strong></div>
<p>
<div align="center"><strong><span style="color:#cc0000;"></span></strong></div>
<p>
<div align="center"></div>
<div class="blogger-post-footer">Fotos y comentarios de los viajes de un marabino por el planeta</div>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
