<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>rri &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/rri/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "rri"</description>
	<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 04:53:29 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Faux soleil]]></title>
<link>http://marilor.wordpress.com/?p=30</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 12:00:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>maril</dc:creator>
<guid>http://marilor.wordpress.com/?p=30</guid>
<description><![CDATA[J&#8217;achève à l&#8217;instant ce merveilleux roman de Jim Harrison et je me dis que décidémen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">J'achève à l'instant ce merveilleux roman de Jim Harrison et je me dis que décidément cet homme là a du génie. Auteur américain contemporain, il a écrit Légendes d'Automne, recueil de trois nouvelles dont l'une d'elle est le titre du recueil. Un bijou. Boulversée par cette plume j'achète alors Faux Soleil et me voilà totalement conquise. Il faut un peu s'accrocher au début et puis petit à petit vous entrez dans ce récit narré par les deux principaux protagonistes, Jim Harrison lui-même et Strang un génie d'une autre espèce. Epileptique, constructeur de barrage, affranchi de toute convention, en fin de vie.... Strang force l'admiration d'Harrison et de ce fait, la notre.</p>
<p style="text-align:justify;">Un journaliste a fait, à mon sens, une assez juste description de son univers: " Les héros de JH semblent n'exister que pour célébrer l'espace, se placer dans le " grand cercle de la nature, ou toute chose est liée". Là où le puritanisme urbain n'a pas pied, ils s'adonnent à un hédonisme parfois brutal. Ses personnages défient presque son écriture. Ils avalent un litre de whisky avant même que les mots n'aient le temps de vider la bouteille. ..Car les personnages de JH vivent dans l'urgence. Ils se battent souvent avec leurs origines, comme Dalva, avec une civilisation qui est née de l'assassinat d'une autre. Ils portent en eux bien des décombres de vies amochées, les leurs et bien d'autres. Ils partagent la douleur, au présent et au passé". Excellente lecture.......</p>
<p style="text-align:justify;">Jim Harrison : Faux Soleil</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Peduli Yatim Bersama RRI]]></title>
<link>http://purwakananta.wordpress.com/?p=56</link>
<pubDate>Wed, 28 May 2008 21:04:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>MA Publising</dc:creator>
<guid>http://purwakananta.wordpress.com/?p=56</guid>
<description><![CDATA[REPUBLIKA, Jumat, 02 Februari 2007
“Tetap peduli anak yatim bersama RRI,” tegas Parni Hadi, Dire]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>REPUBLIKA, Jumat, 02 Februari 2007</p>
<p>“Tetap peduli anak yatim bersama RRI,” tegas Parni Hadi, Direktur Utama Radio Republik Indonesia (RRI) saat memberikan sambutannya dalam rangka memperingati Hari Kepedulian Anak Yatim Nasional di Auditorium lantai I RRI, 30 Januari lalu.</p>
<p>Ketua Dewan Wali Amanah Dompet Dhuafa Republika (Baznas – Dompet Dhuafa) ini menghimbau kepada seluruh Stasiun RRI, mulai dari Aceh sampai Jayapura untuk mendukung program-program anak yatim di wilayahnya. “Jangan sampai kita termasuk orang yang mendustakan agama seperti firman-Nya dalam surat Al-Ma’un. Anak yatim disayangi Allah. Jadi siapa saja yang menyayanginya akan dimuliakan Allah SWT. Dan InsyaAllah dengan mendukung programnya kitapun akan mendapat berkah.”</p>
<p>Acara bertajuk “Cintai Anak Yatim” terselenggara berkat dukungan kemanusiaan para donatur melalui program HAYAT (Hari Anak Yatim) serta masyarakat yang tergerak peduli pada nasib para anak yatim yang orang tuanya menjadi salah satu korban tenggelamnya kapal KM Senopati.</p>
<p>“Terutama menitikberatkan pada bidang pendidikan.” ujar Presiden Direktur Baznas - Dompet Dhuafa, Rahmad Riyadi. Lanjutnya, “Dengan pendidikan yang baik dan cukup, kelak dikemudian hari anak-anak korban ini akan bermanfaat bagi orang lain.”</p>
<p>Sementara itu, GM Resources Mobilization Baznas- Dompet Dhuafa, M.Arifin Purwakananta menerangkan bahwa donasi ini merupakan cara lain advokasi dan keprihatinan masyarakat untuk korban KM Senopati.</p>
<p>Selain dana bantuan pendidikan sebesar Rp 150 juta selama setahun bagi anak yatim korban KM Senopati, Baznas-Dompet Dhuafa melalui LPM nya juga memberikan santunan senilai Rp 70 juta kepada 350 orang anak yatim se-Jadebotabek.<br />
(dwi)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada Kalanya Hari Seperti Ini]]></title>
<link>http://kilauembun.wordpress.com/?p=34</link>
<pubDate>Sun, 18 May 2008 22:19:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ming</dc:creator>
<guid>http://kilauembun.wordpress.com/?p=34</guid>
<description><![CDATA[
 Seseorang tidak beruntung bila ia jatuh dengan punggungnya tapi yang patah hidungnya.

Pepatah Pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div style="border:blue 1pt solid;padding:1pt 0 1pt 4pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:12pt 0 0;padding:0;" align="center"><strong><em><span style="font-size:5pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"> </span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">Seseorang tidak beruntung bila ia jatuh dengan punggungnya tapi yang patah hidungnya.<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">Pepatah Perancis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:1cm;text-align:center;margin:0;padding:0;" align="center"> </p>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:6pt 0 0;" align="center"><strong><em><span style="font-size:12pt;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Jum’at sudah <em>kadung</em> menapaki jam-jam kritisnya, sore jam 6-an, ketika aku beranjak pulang. Menunggu di depan <em>lift</em>, aku harus melewatkan dua kali pintu <em>lift</em> yang terbuka: satu kali karena <em>lift </em>sudah penuh sesak bahkan kucing kurus pun sudah tidak muat, kali lain karena tambahan penumpang dari lantaiku (semua perempuan . . . <em>so, ladies first</em>) memaksaku mengalah </span><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;"><span>L</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Tinggal beberapa menit sebelum jam enam ketika aku memasuki pelataran parkir B3 (paling bawah). Aku baru ingat: tadi siang aku telah memindah parkir mobilku. Dan, seperti orang <em>bego</em>, aku lupa di mana lokasinya. Menggaruk-garuk ingatan tidak menolong. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Jadilah aku menaiki tiap lantai pelataran parkir sambil memanggil mobilku dengan kunci jarak jauh, sebelum kutemukan dia di ujung jauh pelataran B1 </span><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;"><span>L</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">.<!--more--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Belasan menit sesudah jam enam ketika aku masuk dalam deret antrian bayar parkir. Di depanku ada tiga mobil. Mobil kedua berhenti agak lama, entah apa yang terjadi: sopir kehilangan kartu parkir atau <em>nggak</em> punya duit receh atau ada hal lain. Yang jelas, ketika sampai giliranku membayar, muka si kasir sudah bertekuk seribu, <em>nggak</em> sedap dipandang dan seperti memasang rambu “jangan banyak <em>cingcong</em>, <em>cepet ngacir sana</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Memasuki parade malam Sabtu, aku memandang arus lalin di depanku. Aku cuma bisa menarik nafas panjang. Paling sedikit akan makan waktu satu setengah jam sebelum putra-putriku melihat Papa mereka menapaki halaman rumah </span><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;"><span>L</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">. Dan, sangat mungkin, tidak ada satu pun pilihan rute yang bisa memperpendek waktu tempuh itu. Jadi, pada jam setengah tujuh lebih, aku mulai mencemplungkan diri dalam arus pamer paha (pa<em>dat</em> mer<em>ayap</em> <em>tan</em>pa ha<em>rapan</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Siaran ‘pandangan mata’ RRI aku tayangkan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Setelah gagal berada di rumah<span>  </span>bersama anak-anakku, di depan teve, lebih awal, aku mesti puas dengan reportase audio begini. Semi-final Thomas Cup sudah berlangsung. Dan Sony sedang berjuang keras di ‘babak karet’ setelah berbagi kemenangan satu babak dengan pemain tunggal utama Korea.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Dua menit sebelum jam tujuh, di tengah-tengah ketegangan mengikuti hasil akhir ‘babak karet’, siaran dihentikan karena harus menyiarkan warta berita. Hebat . . . RRI rupanya tidak bisa menemukan waktu yang lebih tepat untuk mengecewakan pendengarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Belasan menit telah melewati jam tujuh ketika siaran ‘pandangan mata’ kembali mengudara. Sony sudah gugur. Gerutuku sudah panjang pendek, tidak jelas kepada siapa: Sony yang kalah entah bagaimana ‘cara’-nya atau RRI yang <em>gebleg</em> memotong siaran. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Huhhh . . . .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Aku masih beringsut-ingsut di tengah aliran arus ’pamer’ sambil terus menyimak laporan penyiar yang menegangkan. Pasangan ganda pertama kita, Markis/Hendra,<span>  </span>tengah beraksi. Ketika situasinya sedang kritis, ketika perolehan angka-angka begitu menentukan, ketika itu jam menapaki beberapa menit akhir sebelum pukul delapan. Siaran, lagi-lagi, diputus demi sekian belas menit warta berita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Aku terpaksa menelan sejuta sumpah serapah kekesalan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Betapa parahnya <em>marketing skill</em> corong pemerintah ini, makiku dalam hati. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Betapa rendahnya pelayanan berbasis pelanggannya: mengedepankan protokol ketimbang melayani harapan pendengarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Markis/Hendra sudah gugur ketika warta berita usai. </span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Kita sudah ketinggalan dua – nol. Taufik Hidayat sedang berusaha menghidupkan peluang tim Indonesia menggapai babak final. Di tengah perjuangan Taufik yang terseok-seok dan mengkhawatirkan, aku tiba di rumah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Anak-anak kutemukan di ruang tamu, bermain berdua. Pesawat teve tidak dinyalakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">”Teve-nya mati, Pa,” lapor Ena dalam nada kecewa. Putriku ini yang <em>getol</em> mengikuti Thomas-Uber sepanjang minggu ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">”Gambarnya <em>nggak</em> ada; cuma ada suara, “ sambung Peter teknis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Jadilah, aku menyetel radio lagi, RRI lagi. Kali ini bersama Ena dan Peter, aku menyimak perjuangan Taufik Hidayat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Lagi-lagi situasi sedang kritis ketika RRI memotong siarannya, mengecewakan tiga pendengar . . . eh empat pendengar di sebuah rumah di Cibubur karena belakangan pengurus rumah kami juga <em>nebeng</em> mendengarkan. Aku langsung mematikan radio, kesal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Teve kunyalakan, kupilih saluran yang menyiarkan laporan pertandingan. Tanpa gambar, tanpa laporan rinci (baru aku sadar penyiar dan komentator teve ternyata lebih banyak <em>ngobrol</em> sendiri), gambaran pertandingan jadi begitu mengesalkan. (Lagi-lagi) huhhh . . . .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Ketika Taufik kalah, ketika tim Thomas kita kalah, aku juga dikalahkan ketidakberuntungan yang begitu ketat mengikuti malam Sabtu ini <span> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;"><span>L</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;"> . . . .</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Protokoler Fair 2008" di Auditorium RRI]]></title>
<link>http://dzulfikar.wordpress.com/?p=411</link>
<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 08:37:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>dzulfikar</dc:creator>
<guid>http://dzulfikar.wordpress.com/?p=411</guid>
<description><![CDATA[By  :  dzulfikar

Korps Presenter Mahasiswa Universitas Padjadjaran (KPM Unpad) menyelenggarakan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>By  : <em><strong> dzulfikar</strong></em></p>
<p><span style="font-size:x-small;"></p>
<p align="justify">Korps Presenter Mahasiswa Universitas Padjadjaran (KPM Unpad) menyelenggarakan <em><strong>"Protokoler Fair 2008", Rabu (30/4), di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI), Jln. Diponegoro No. 60 Bandung, pukul 8.30-21.00 WIB.</strong></em> Dalam acara ini akan digelar lomba presenter dan news presenter protokol fair 2008, dengan menghadirkan dewan juri Fessy Alwi (ANTV), Encep Suryana (TVRI Jabar Banten), Aang (STV), Sulaiman (Kepala Produksi RRI Bandung), dan Hadi Suprapto (akademisi Unpad). <em><strong>Pendaftaran di Sekretariat Panitia Kampus Unpad Jln. Dipati Ukur dan Jatinangor atau Tria (022-91381264/08561173886</strong></em>).</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[event tahunan Lomba Presenter dan News Presenter]]></title>
<link>http://dzulfikar.wordpress.com/?p=306</link>
<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 13:43:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>dzulfikar</dc:creator>
<guid>http://dzulfikar.wordpress.com/?p=306</guid>
<description><![CDATA[Korps Protokoler Mahasiswa Universitas Padjadjaran (KPM Unpad) menggelar event tahunan Lomba Present]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Korps Protokoler Mahasiswa Universitas Padjadjaran (KPM Unpad) menggelar event tahunan Lomba Presenter dan News Presenter, <em><strong>Rabu (30/4) di Ruang Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI), Jln. Diponegoro 61, Bandung. </strong></em>Tema naskah, presenter (infotainment, olah raga, talkshow, musik, travelling), news presenter (kecelakaan, politik, hari raya, kriminal, bencana alam). Para pemenang mendapatkan trofi, sertifikat, uang, dsb., total hadiah Rp 2.500.000,00. *</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berita radio jaringan, fenomena RRI ala swasta]]></title>
<link>http://radioku.wordpress.com/2008/03/12/berita-radio-jaringan-fenomena-rri-ala-swasta/</link>
<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 01:00:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Alex Santosa</dc:creator>
<guid>http://radioku.wordpress.com/2008/03/12/berita-radio-jaringan-fenomena-rri-ala-swasta/</guid>
<description><![CDATA[ Akhir-akhir ini, trend pembentukan jaringan media termasuk radio, semakin merebak di Indonesia. Sec]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://radioku.files.wordpress.com/2008/03/tower.jpg"><img align="right" width="150" src="http://radioku.files.wordpress.com/2008/03/tower-thumb.jpg" alt="TOWER" height="225" style="border-width:0;margin:5px 0 0;" /></a> Akhir-akhir ini, trend pembentukan jaringan media termasuk radio, semakin merebak di Indonesia. Secara umum, jaringan radio yang lazim ada di Indonesia paling tidak bisa dibagi dalam 3 kategori:</p>
<ol></ol>
<ol>
<li>Program Network atau kerjasama program, dimana radio induk berfungsi sebagai pembuat acara yang kemudian disebarkan ke radio-radio yang menjadi anggota jaringannya.</li>
<li>Sales Network atau kerjasama penjualan, dimana anggota jaringan yang satu bisa menawarkan radio yang lain ke calon pemasang iklan.</li>
<li>Total Network, dimana sebuah jaringan radio secara total mengelola radio-radio yang menjadi anggota jaringannnya, baik dari sisi program, SDM, hingga ke penjualan.</li>
</ol>
<p>Seiring dengan tumbuhnya jaringan radio di Indonesia, muncul juga berbagai acara yang<br />
<!--more-->dikemas untuk disiarkan secara bersama-sama di seluruh radio yang menjadi anggota jaringan tersebut. Termasuk program berita yang disiarkan serentak oleh radio jaringan.</p>
<p>Berbeda dengan acara radio secara umum, pembuatan jaringan berita di radio perlu dicermati, agar apa yang diberitakan bisa tepat dikonsumsi oleh khalayak pendengar.</p>
<p>Saya tergelitik mendengarkan siaran sebuah radio berita di Surabaya yang saat ini sudah berjaringan dengan banyak radio di berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam salah satu acara beritanya, radio ini menghubungi reporter dari sejumlah radio yang menjadi anggota jaringannya di berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah seperti Semarang, Kediri, Lamongan, Banyuwangi, Madiun dan lain sebagainya. Isi beritanya tanpa <u><a href="http://radioku.wordpress.com/2008/02/12/soundbite/">soundbite</a></u> dan sangat lokal, mulai dari Pilkada di kota A, penyuluhan kesehatan di kota B, bahkan orang gila mengamuk di kota C.</p>
<p>Meskipun tidak sama persis, acara ini mengingatkan saya pada program berita jam 9 pagi RRI jaman dulu, Varia Nusantara (CMIIW). Waktu itu, di jaman orde baru, semua radio swasta diharuskan me-relay acara-acara berita RRI. Aturan menahun yang banyak di protes broadcaster swasta ini akhirnya hilang seiring dengan munculnya era pemerintahan yang baru. Fenomena yang menarik, jika dulu radio swasta beramai-ramai menolak aturan relay RRI, belakangan ini sejumlah radio swasta beramai-ramai membangun jaringan berita, dimana 1 radio me-relay radio lainnya. Fenoma RRI ala swasta.</p>
<p>Dari sisi biaya, untuk membangun jaringan berita tidaklah murah. Paling tidak radio induk yang di-relay harus menyewa satelit, radio yang me-relay harus membeli parabola dan recievernya, menyiapkan anggaran pulsa telpon untuk berkomunikasi dengan reporter-reporter di daerah serta tentunya mempersiapkan sumber daya manusia.</p>
<p>Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dengan adanya jaringan, sebuah radio akan nampak besar dan kuat. Yang perlu dipertimbangkan, apakah dana yang sudah dikeluarkan sebanding dengan hasil yang bisa dicapai dari program jaringan yang kita bentuk? Apa jadinya jika dana diinvestasikan hanya untuk mendukung program berita jaringan yang total durasinya dalam 1 hari hanya 2 - 3 jam saja? Apa jadinya jika program berita itu tidak menjawab kebutuhan dan keinginan pendengar, sehingga hanya didengar daripada sepi tanpa membawa manfaat lain?</p>
<p>Tujuan kita membuat sebuah program radio, termasuk program berita, adalah agar radio kita didengar oleh masyarakat. Dan menurut <u>teori</u> yang sampai saat ini dipercaya masih manjur, sebuah berita harus mengandung 7 elemen (news values) sebagai berikut:</p>
<ul></ul>
<ul>
<li><a name="Impact" title="Impact"></a><b><em>Impact:</em></b>  information has impact if it affects a lot of people.</li>
<li><b><em>Timeliness:</em></b> information has timeliness if it happened recently.</li>
<li><b><em>Prominence:</em></b> information has prominence if it involves a well-known person or organization.</li>
<li><b><em>Proximity:</em></b> information has proximity if it involves something happened somewhere nearby.</li>
<li><b><em>Conflict:</em></b> information has conflict if it involves some kind of disagreement between two or more people.</li>
<li><b><em>Weirdness:</em> </b>information has weirdness if it involves something unusual or strange.</li>
<li><b><em>Currency:</em></b> information has currency if it is related to some general topic a lot of people are already talking about.</li>
</ul>
<p>Selain itu, perlu juga diperhatikan karakteristik radio yang lokal dan personal, dimana radio di daerah tertentu memiliki karakter yang berbeda dengan radio di daerah lain karena pendengar yang dilayani juga memiliki ketertarikan, kepentingan dan karakter yang berbeda.</p>
<p>Dengan mempertimbangkan teori elemen berita dan karakteristik radio tersebut, sebuah peristiwa yang heboh di daerah tertentu, belum tentu membuat heboh masyarakat di kota lain. Selama berita lokal yang terjadi di suatu daerah belum menjadi berita besar skala nasional, pendengar tidak akan tertarik karena berita itu tidak berkaitan langsung dengan dirinya. Pendengar akan menantikan berita yang memiliki value langsung bagi dirinya, tidak sekedar value added bahkan kalau bisa value in use.</p>
<p>Lalu, kenapa kita harus me-relay radio lain jika kita masih harus menyiapkan reporter untuk menyumbangkan berita ke radio yang kita relay? Jika mau, kita juga mampu membuat berita sendiri yang lebih dekat dan lebih bermanfaat bagi pendengar kita. Daripada menyiarkan peristiwa lokal yang terjadi di kota lain, lebih baik kita memberitakan peristiwa yang terjadi di kota kita sendiri. Bagi radio besar yang memiliki dana lebih, daripada mengajak radio-radio di daerah me-relay program berita kita, lebih baik dana itu kita gunakan untuk memberikan pelatihan jurnalistik bagi radio-radio yang menjadi anggota jaringan kita, agar mereka memilki divisi pemberitaan yang mandiri. Bukankah salah satu prinsip berjaringan adalah kebersamaan (bukan kesamaan) untuk kemajuan bersama?</p>
<p>Bagi radio yang sudah memiliki program berita jaringan, seleksi berita yang akan disiarkan perlu diperketat agar jangan hanya memenuhi kepentingan lokal. Pada saat kita memiliki komitmen untuk menyajikan berita jaringan, artinya kita berkomitmen untuk melayani kepentingan pendengar dalam skala yang lebih besar, regional bahkan nasional.</p>
<p>Jangan sampai kita buang tenaga dan biaya untuk menyajikan program yang belum tentu diharapkan oleh pendengar. Jangan sampai pembuatan dan penyiaran acara berita jaringan hanya sekedar menjadi sarana untuk unjuk kekuatan tanpa memikirkan 'need and want' pendengar.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hati Yang Luka]]></title>
<link>http://jiwamusik.wordpress.com/?p=234</link>
<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 01:13:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jiwa Musik</dc:creator>
<guid>http://jiwamusik.wordpress.com/?p=234</guid>
<description><![CDATA[Artis (Band): Betharia Sonatha / Obbie Messakh
Pak Harmoko, sebagai Menteri Penerangan era Pak Harto]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Artis (Band): <strong>Betharia Sonatha / Obbie Messakh</strong></p>
<p><em>Pak Harmoko, sebagai Menteri Penerangan era Pak Harto, pernah melarang lagu top hits 1987 ini untuk disiarkan di RRI dan TVRI serta radio swasta 'sangat disaranken' untuk tidak memutarnya dengan alasan lagu cengeng atau resminya: “Ratapan patah semangat berselera rendah”.<br />
Sampai Pak Harto meninggal tiga hari lalu pun belum pernah terbetik berita, kabar ataupun gosip bahwa Pak Harmoko pernah meminta maaf baik kepada penyanyi, pengarang ataupun fansnya.</em></p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/L4McPjOsC8E'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/L4McPjOsC8E&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
<p>Berulang kali aku mencoba<br />
s'lalu untuk mengalah<br />
<!--more-->demi keutuhan kita berdua<br />
walau kadang sakit</p>
<p>Lihatlah tanda merah di pipi<br />
bekas gambar tanganmu<br />
sering kau lakukan<br />
bila kau marah menutupi salahmu</p>
<p>Samakah aku<br />
bagai burung disana<br />
yang dijual orang<br />
hingga sesukamu<br />
kau lakukan itu<br />
kau sakiti aku</p>
<p>Kalaulah memang kita berpisah<br />
itu bukan suratan<br />
mungkin ini lebih baik<br />
agar kau puas membagi cinta<br />
Pulangkan saja<br />
aku pada ibuku atau ayahku...</p>
<p>Dulu, segenggam emas<br />
kau pinang aku...<br />
Dulu, bersumpah janji<br />
di depan saksi wow wow...<br />
Namun semua hilanglah sudah<br />
ditelan dusta wow wow...<br />
Namun semua tinggal cerita<br />
hati yang luka...</p>
<p><em>(Biar...,<br />
biarkanlah ada duka malam ini<br />
mungkin esok kan kau jelang<br />
bahagia bersama yang lain)</em></p>
<p>Kalaulah memang kita berpisah<br />
itu bukan suratan<br />
mungkin ini lebih baik<br />
agar kau puas membagi cinta<br />
Pulangkan saja<br />
aku pada ibuku atau ayahku...</p>
<p>Dulu, segenggam emas<br />
kau pinang aku...<br />
Dulu, bersumpah janji<br />
didepan saksi wow wow...<br />
Namun semua hilanglah sudah<br />
ditelan dusta wow wow...<br />
Namun semua tinggal cerita<br />
hati yang luka...</p>
<p>Namun semua tinggal cerita<br />
hati yang luka...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pembaca Proklamasi di Radio Itu Telah Tiada]]></title>
<link>http://rusdimathari.wordpress.com/?p=358</link>
<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 10:47:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>rusdi mathari</dc:creator>
<guid>http://rusdimathari.wordpress.com/?p=358</guid>
<description><![CDATA[
Jusuf Ronodipuro yang membacakan dan menyiarkan naskah Proklamasi 17 Agustus 1945 lewat radio hingg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="www.rri-online.com" href="http://rusdimathari.wordpress.com/files/2008/01/js.jpg"><img style="float:right;margin:0 10px 10px 0;" src="http://rusdimathari.wordpress.com/files/2008/01/js.thumbnail.jpg" border="0" alt="www.rri-online.com" /></a></p>
<h3>Jusuf Ronodipuro yang membacakan dan menyiarkan naskah <a href="http://www.dprdkutaikartanegara.go.id/bacawarta.php?id=617">Proklamasi 17 Agustus 1945 </a>lewat radio hingga kemerdekaan Indonesia itu diketahui oleh banyak negara di dunia, meninggal dunia pada 27 Januari 2008 atau berselisih sekitar 10 jam dengan kematian <a href="http://rusdimathari.wordpress.com/2008/01/27/soeharto-meninggal/">Soeharto</a>. Namun pemberitaan tentang sosok pejuang dan wartawan itu rupanya tak menarik para juniornya sesama wartawan dibanding berita kematian Soeharto, sang Jenderal Besar.</h3>
<p><!--more--></p>
<h3>Oleh Rusdi Mathari</h3>
<h3>TAK banyak yang tahu termasuk kalangan wartawan siapa H.M. Jusuf Ronodipuro. Namanya sudah tenggelam atau mungkin ditenggelamkan sejak dia ikut meneken <a href="http://209.85.175.104/search?q=cache:NmqHOpfPGq8J:www.mail-archive.com/tionghoa-net%40yahoogroups.com/msg01293.html+Petisi+50+dibuat+pada+1980&#38;hl=id&#38;ct=clnk&#38;cd=2&#38;gl=id&#38;client=firefox-a">Petisi 50 </a>bersama Ali Sadikin, A.H. Nasution, H.R. Dharsono dan sebagainya pada 5 Mei 1980. Petisi itu ditujukan antara lain untuk mengoreksi langkah-langkah Soeharto sebagai Presiden RI yang dianggap melenceng. Namun Jusuf harus dikenal dan dikenang bukan karena keterlibatannya dalam Petisi 50. Dialah pejuang yang membacakan naskah Proklamasi 1945 melalui stasiun radio milik Jepang, Hoso Kyoku di Jakarta yang disiarkan ke seluruh dunia hingga banyak negara tahu dan kemudian mengakui kemerdekaan Indonesia.</h3>
<h3>Bersama antara lain Bahtar Lubis, Jusuf pada zaman itu memang bekerja sebagai penyiar pada stasiun radio Jepang yang kemudian setelah kemerdekaan menjadi RRI. Sebelum pembacaan naskah Proklamasi itu, sejak 15 Agustus 1945 Jepang mengisolasi Jusuf dan pekerja lain, agar tidak mendengar tentang kekalahan Jepang dalam PD II: karyawan di dalam kantor dilarang keluar dan yang berada di luar tidak boleh masuk. Siaran luar negeri pun dihentikan.</h3>
<h3>Hingga dua hari kemudian, ketika <a href="http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/biography/index.asp?presiden=sukarno">Soekarno</a> membacakan naskah Proklamasi pada Jumat legi 17 Agustus 1945 dari Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta sekitar pukul 10 pagi, Jusuf dan karyawan yang lain masih tetap berada di kantor stasiun radio Jepang. Karena diisolasi Jusuf dan karyawan yang lain, tentu saja tak mendapat informasi apa pun soal kemerdekaan Indonesia itu. Baru pada sorenya (pada hari yang sama), ketika menyiapkan buka puasa, Jusuf dikejutkan dengan kedatangan penyusup di kantornya.</h3>
<h3>Penyusup itu lalu menyerahkan selembar yang ditulis oleh <a href="http://www.deplujunior.org/menteri_luar_negeri.html?page=1855589010">Adam Malik</a> yang meminta Jusuf dan teman-temannya membacakan lampiran dari surat tersebut. “Harap berita terlampir disiarkan.” Lampiran itu adalah salinan naskah Proklamasi yang telah dibacakan oleh Soekarno pada pagi sebelumnya.</h3>
<h3>Jusuf bersama Bahtar dan kawan-kawan yang lain lalau memutuskan untuk menyiarkan naskah Proklamasi Kemerdekaan lewat radio Jepang itu, seperti diminta Adam Malik. Singkat kata akhirnya Jusuf membacakan naskah itu di depan corong selama 15 menit di ruang siaran luar negeri, yang sudah ditutup oleh Jepang sejak 15 Agustus menyusul hancurnya <a href="http://www1.city.nagasaki.nagasaki.jp/na-bomb/museum/museume01.html">Nagasaki</a> dan <a href="http://www.cfo.doe.gov/me70/manhattan/hiroshima.htm">Hiroshima </a>akibat dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat. Belakangan pihak Jepang mengetahui adanya siaran itu. Jusuf dan Bahtar diinterogasi dan disiksa. Pembacaan naskah Proklamasi itu lima tahun kemudian disiarkan ulang pada 17 Agustus 1950 dari gedung pola.</h3>
<h3>Jusuf lahir pada 30 September 1919 dan sempat menjabat posisi penting di era Soekarno dan Soeharto. Dia misalnya pernah menjabat sebagai Sekjen Departemen Penerangan, pernah bertugas di Inggris dan PBB. Terakhir dia tercatat sebagai Duta Besar RI untuk Argentina sebelum kemudian ikut bergabung dalam Petisi 50.</h3>
<h3>Pada medio Juni 2007 Jusuf terserang stroke dan sejak itu beberapa kali dia harus dirawat di rumah sakit. Terakhir Jusuf masuk rumah sakit pada Desember 2007 dan mengembuskan napas pada 27 Januari 2008 malam, berselisih 10 jam dengan kematian Jenderal Besar Soeharto. Namun kematian Jusuf rupanya tak menarik untuk diberitakan, seperti halnya kematian Soeharto yang hampir 24 jam disiarkan oleh hampir seluruh stasiun televisi secara langsung, bak kisah kematian seorang raja yang agung dan dicintai rakyatnya. Sebagai pejuang dan wartawan, Jusuf meninggal justru jauh dari liputan wartawan para juniornya yang sedang meliput kematian Soeharto dan pernak-perniknya.</h3>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Romania 6-1 Albania]]></title>
<link>http://alvarezgalloso.wordpress.com/2007/11/21/romania-6-1-albania/</link>
<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 18:51:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>alvarezgalloso</dc:creator>
<guid>http://alvarezgalloso.wordpress.com/2007/11/21/romania-6-1-albania/</guid>
<description><![CDATA[Romania and Albania played their classification games for Euro 2008. Roberto was able to support the]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Romania and Albania played their classification games for Euro 2008. Roberto was able to support the Romanian Team by listening to the game live on his laptop from the webpages of Romanian Radio and Television.</strong></p>
<p><strong>Roberto was happy with every goal and started celebrating with a lot of coffee. Romania has proved itself by playing a game that was exciting thanks to their tenacity, discipline, and dominance of the game. It should also be remembered that they dominated the field and home town advantage. Dica, Tamas, Niculae, and Marica were the ones who scored the goals with the last two scored on a penalty.</strong></p>
<p><strong>Albania on the other hand could not save itself even with a goal from Kapllani. The Albanian Team behaved antiprofessional with bookings and expulsions being the order of the day. It is a shame but they squandered every opportunities.</strong></p>
<p><strong>Romania has proved itself worthy of winning Euro 2008 although there are stronger competitors such as Estonia. Roberto would like to extend his best wishes to Romania.</strong></p>
<p><strong>Romania 6-1 Albania</strong></p>
<p><strong>Romania: 10/10</strong></p>
<p><strong>Albania: 0/10<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rumania 6-1 Albania]]></title>
<link>http://alvarezgalloso.wordpress.com/2007/11/21/rumania-6-1-albania/</link>
<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 18:41:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>alvarezgalloso</dc:creator>
<guid>http://alvarezgalloso.wordpress.com/2007/11/21/rumania-6-1-albania/</guid>
<description><![CDATA[Rumania y Albania jugaron su clasificacion para Euro 2008. Este humilde servidor tenia el honor de e]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Rumania y Albania jugaron su clasificacion para Euro 2008. Este humilde servidor tenia el honor de escuchar el juego mediante la Radio Television Rumana en la computadora. Se podia apreciar el juego y la fortaleza del equipo rumano.</strong></p>
<p><strong>Rumania domino el juego con la diciplina, tenacidad, y los goles de Dica, Tamas, Niculae, y Marca. Los ultimos dos goles eran por penalidades dejando el publico rumano y este humilde servidor contento. Ni la amonestacion de Marca desanimo un equipo fuerte.Rumania merece ser campeon de Euro 2008 en Suiza y Austria pero el tiempo dira. </strong></p>
<p><strong>Albania mostro que no tenia la talla ni la potencia de un equipo poderoso. Albania tenia un equipo antiprofesional con expulsiones y amonestaciones siendo el pan de cada dia en la contienda. Ni el gol de Kapllani podia ayudar al equipo albanes. Es una lastima. Pero Rumania merece todo lo mejor en la contienda de Euro 2008.</strong></p>
<p><strong>Rumania 6-1 Albania</strong></p>
<p><strong>Rumania: 10/10</strong></p>
<p><strong>Albania: 0/10</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ganador del Premio AG para Emisoras de Onda Corta 2007: Radio Rumania Internacional]]></title>
<link>http://alvarezgalloso.wordpress.com/2007/11/18/ganador-del-premio-ag-para-emisoras-de-onda-corta-2007-radio-rumania-internacional/</link>
<pubDate>Sun, 18 Nov 2007 03:54:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>alvarezgalloso</dc:creator>
<guid>http://alvarezgalloso.wordpress.com/2007/11/18/ganador-del-premio-ag-para-emisoras-de-onda-corta-2007-radio-rumania-internacional/</guid>
<description><![CDATA[Premio AG para Emisoras de Onda Corta 2007
Radio Rumania Internacional por su aporte en ser lo mejor]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Premio AG para Emisoras de Onda Corta 2007</p>
<p></em>Radio Rumania Internacional por su aporte en ser lo mejor y original en las emisoras de onda corta. RRI merece este premio por su aporte hacia la promocion de la libertad y la cultura.</p>
<p></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Siaran di RRI Yogyakarta]]></title>
<link>http://maswing.wordpress.com/2007/09/07/siaran-rri-pro-3/</link>
<pubDate>Fri, 07 Sep 2007 03:45:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Wing Wahyu Winarno</dc:creator>
<guid>http://maswing.wordpress.com/2007/09/07/siaran-rri-pro-3/</guid>
<description><![CDATA[Teman-teman,
Pada hari Minggu dini hari, tanggal 9 September 2007, mulai jam 01:00, saya diundang ol]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Teman-teman,</p>
<p>Pada hari Minggu dini hari, tanggal 9 September 2007, mulai jam 01:00, saya diundang oleh RRI Nusantara 2, Yogyakarta, untuk menjadi nara sumber dalam salah satu acara siarannya. Acara ini membahas topik-topik hangat, yang siarannya memakan waktu cukup panjang, karena dimulai pukul 00:00 s.d. pukul 05:00. Acara ini diisi dengan lagu-lagu, dengan obrolan nara sumber, dan tanya jawab pendengar. Setahu saya, acara ini juga disiarkan nasional (CMIIW). Nah, giliran saya adalah setelah lagu-lagu dan sapa atau jumpa pendengar, diperkirakan selama dua jam, dari jam 01:00 s.d. 03:00. Topik yang akan dibicarakan adalah revitalisasi RRI dalam menyambut HUT RRI ke-62.</p>
<p>Saya ingin mengusulkan agar RRI juga memanfaatkan teknologi informasi untuk melengkapi siaran mereka, minimal dengan web yang dilengkapi dengan audio streaming, atau live show, sehingga bisa didengar di seluruh dunia. Saat ini baru RRI Nasional Jakarta saja yang sudah menyediakan fasilitas ini. Selain itu, RRI juga perlu lebih proaktif dengan mengajak kerja sama dengan radio-radio lokal, untuk menyiarkan acara-acara unggulan mereka. Tujuannya agar tetap dapat disukai pendengarnya.</p>
<p>Oleh karenanya, bagi Anda yang masih memiliki pesawat radio bergelombang FM, bisa juga memakai ponsel Anda yang sudah ada radio FM-nya, untuk mendengarkan acara tersebut. Sukur-sukur Anda ikut nelpon atau berpartisipasi dalam bagian acara tanya jawab. Saya tunggu ya ;-)</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
